inspeksi

Contoh Risk Assessment K3: Panduan Lengkap dan Terperinci

Sebagai seorang profesional di bidang K3 , penting untuk memahami dan mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi di tempat kerja. Risk assessment adalah proses penting yang melibatkan identifikasi, penilaian, dan pengendalian risiko yang ada. Dengan melakukan risk assessment K3 yang efektif, perusahaan dapat memastikan keamanan dan kesehatan kerja para karyawan mereka.

Pengenalan tentang Risk Assessment K3

Sebagai langkah awal, penting bagi kita untuk memahami pengertian dasar tentang risk assessment K3. Risk assessment K3 adalah proses sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko yang mungkin terjadi di tempat kerja. Tujuan utama dari risk assessment K3 adalah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan karyawan serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Mengapa Risk Assessment K3 Penting?

Risk assessment K3 sangat penting karena dapat membantu perusahaan mengidentifikasi risiko yang ada di tempat kerja dan mengambil langkah-langkah preventif yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut. Dengan melibatkan semua pihak terkait, seperti manajemen, karyawan, dan ahli K3, dalam proses risk assessment, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Proses Risk Assessment K3

Proses risk assessment K3 terdiri dari beberapa langkah penting. Pertama, identifikasi risiko dilakukan dengan mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja. Setelah itu, risiko diukur dengan menentukan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko. Selanjutnya, dilakukan analisis risiko untuk mengevaluasi dampak risiko terhadap karyawan dan perusahaan. Terakhir, dilakukan pengendalian risiko dengan mengimplementasikan langkah-langkah preventif dan protektif yang sesuai.

Langkah-langkah dalam Melakukan Risk Assessment K3

Setelah memahami pengertian dasar tentang risk assessment K3, mari kita jelajahi langkah-langkah yang harus diikuti dalam melakukan risk assessment K3 yang efektif:

1. Identifikasi Potensi Bahaya

Langkah pertama dalam risk assessment K3 adalah mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan survei menyeluruh di seluruh area kerja dan mengidentifikasi segala sesuatu yang dapat menyebabkan cedera atau penyakit pada karyawan.

2. Penilaian Risiko

Setelah potensi bahaya diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menilai risiko yang terkait dengan setiap potensi bahaya. Risiko dapat dinilai berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya. Dalam penilaian risiko, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti paparan karyawan terhadap bahaya, kemungkinan kecelakaan, dan kerentanan karyawan terhadap risiko tersebut.

3. Evaluasi Risiko

Setelah risiko dinilai, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi risiko. Evaluasi risiko melibatkan penentuan tingkat risiko yang ada, seperti risiko tinggi, sedang, atau rendah. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memprioritaskan risiko yang perlu ditangani dengan segera dan mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mengurangi risiko tersebut.

4. Pengendalian Risiko

Setelah risiko dievaluasi, langkah terakhir dalam risk assessment K3 adalah pengendalian risiko. Pengendalian risiko melibatkan implementasi langkah-langkah preventif dan protektif yang sesuai untuk mengurangi risiko yang diidentifikasi. Ini dapat mencakup perbaikan fisik, perubahan prosedur kerja, pelatihan karyawan, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan tindakan pengawasan yang ketat.

Penilaian Risiko dalam Risk Assessment K3

Penilaian risiko adalah langkah penting dalam risk assessment K3 yang melibatkan penilaian tingkat risiko yang terkait dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja. Dalam melakukan penilaian risiko, ada beberapa metode yang dapat digunakan:

Metode Matriks Risiko

Metode matriks risiko adalah salah satu metode umum yang digunakan dalam penilaian risiko. Dalam metode ini, risiko dinilai berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko. Risiko dapat dikategorikan menjadi risiko tinggi, sedang, atau rendah, berdasarkan nilai yang ditetapkan dalam matriks risiko.

Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control)

HIRARC adalah metode yang lebih rinci dan komprehensif dalam melakukan penilaian risiko. Metode ini melibatkan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. Dalam metode HIRARC, risiko dinilai berdasarkan tingkat keparahan, kemungkinan terjadinya, dan tingkat eksposur karyawan terhadap bahaya.

Faktor-faktor yang Harus Dipertimbangkan dalam Penilaian Risiko

Dalam melakukan penilaian risiko, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

1. Tingkat Keparahan Risiko

Tingkat keparahan risiko harus dinilai berdasarkan potensi bahaya yang terkait dengan risiko tersebut. Risiko dengan potensi bahaya yang lebih serius akan memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi.

2. Kemungkinan Terjadinya Risiko

Kemungkinan terjadinya risiko harus dinilai berdasarkan faktor-faktor seperti frekuensi paparan karyawan terhadap bahaya, keadaan lingkungan kerja, dan kepatuhan terhadap prosedur kerja yang aman.

3. Tingkat Eksposur Karyawan

Tingkat eksposur karyawan terhadap bahaya harus dinilai untuk menentukan sejauh mana karyawan terpapar risiko tersebut. Faktor-faktor seperti durasi paparan, intensitas paparan, dan rentang waktu paparan harus dipertimbangkan.

Identifikasi Risiko dalam Risk Assessment K3

Identifikasi risiko adalah langkah penting dalam risk assessment K3 yang melibatkan mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja. Dalam melakukan identifikasi risiko, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan:

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Identifikasi Risiko

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi identifikasi risiko adalah:

1. Peralatan Kerja

Perlengkapan kerja yang digunakan di tempat kerja dapat menjadi sumber risiko. Peralatan yang rusak, tidak terawat, atau tidak sesuai standar keselamatan dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

2. Proses Kerja

Proses kerja yang tidak efisien atau tidak aman dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Tahapan kerja yang melibatkan penggunaan bahan kimia berbahaya atau pekerjaan di tempat yang terbatas juga dapat menyebabkan risiko yang lebih tinggi.

3. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja yang buruk, seperti kebisingan, kelembaban berlebih, atau kurangnya ventilasi, dapat berkontribusi pada risiko kecelakaan dan penyakit kerja.

Menggunakan Teknik Identifikasi Risiko

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko, antara lain:

1. Observasi Langsung

Dengan melakukan observasi langsung di tempat kerja, Anda dapat mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi. Perhatikan kondisi fisik tempat kerja, perilaku karyawan, dan penggunaan peralatan kerja untuk mengidentifikasi risiko yang mungkin ada.

2. Analisis Dokumen

Melakukan analisis dokumen seperti laporan kecelakaan, laporan inspeksi K3 sebelumnya, atau panduan keselamatan dan kesehatan kerja dapat membantu Anda mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi di tempat kerja.

3. Diskusi Kelompok

Melakukan diskusi kelompok dengan karyawan, manajemen, dan ahli K3 dapat membantu mengidentifikasi risiko yang belum terdeteksi sebelumnya. Diskusikan pengalaman, masalah, dan saran mereka terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Pengendalian Risiko dalam Risk Assessment K3

Pengendalian risiko adalah langkah penting dalam risk assessment K3 yang melibatkan mengimplementasikan langkah-langkah preventif dan protektif untuk mengurangi risiko yang telah diidentifikasi. Berikut ini adalah beberapa strategi pengendalian risiko yang dapat Anda terapkan:

1. Perbaikan Fisik

Perbaikan fisik melibatkan perubahan pada peralatan, instalasi, atau lingkungan kerja untuk mengurangi risiko. Misalnya, memasang pagar pengaman, memperbaiki peralatan yang rusak, atau meningkatkan sistem ventilasi.

2. Perubahan Prosedur Kerja

Perubahan prosedur kerja dapat membantu mengurangi risiko yang terkait dengan aktivitas tertentu. Ini dapat mencakup penyediaan instruksi kerja yang jelas, pelatihan karyawan, atau pengaturan jadwal kerja yang lebih aman.

3. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

APD seperti helm, masker, sarung tangan, atau kacamata pelindung dapat membantu melindungi karyawan dari potensi bahaya. Pastikan APD yang digunakan sesuai dengan risiko yang ada dan karyawan telah dilatih dalam penggunaannya.

4. Tindakan Pengawasan yang Ketat

Tindakan pengawasan yang ketat dapat membantu memastikan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan kesehatan kerja. Ini dapat melibatkan inspeksi rutin, pengawasan langsung, atau penggunaan teknologi canggih seperti sensor keamanan.

Contoh Risk Assessment K3 di Industri Manufaktur

Industri manufaktur memiliki berbagai risiko yang unik terkait dengan proses produksi dan penggunaan peralatan. Berikut adalah contoh risk assessment K3 yang khusus untuk industri manufaktur:

1. Identifikasi Risiko di Lantai Pabrik

Identifikasi risiko di lantai pabrik mencakup risiko cedera karena terjatuh, terjepit, atau terpapar bahan kimia berbahaya. Risiko ini dapat dikurangi dengan penggunaan peralatan pelindung diri, tanda peringatan yang jelas, dan pelatihan karyawan tentang penggunaan peralatan dengan aman.

2. Evaluasi Risiko pada Proses Produksi

Proses produksi dalam industri manufaktur dapat melibatkan risiko yang berbeda, seperti risiko kebakaran, ledakan, atau kecelakaan mesin. Evaluasi risiko harus dilakukan untuk menentukan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan, seperti pemeriksaan rutin, perawatan mesin yang teratur, atau penggunaan sistem proteksi kebakaran yang memadai.

3. Pengendalian Risiko Penggunaan Bahan Kimia

Penggunaan bahan kimia dalam industri manufaktur dapat menyebabkan risiko terhadap kesehatan karyawan jika tidak ditangani dengan benar. Penting untuk mengevaluasi risiko yang terkait dengan penggunaan bahan kimia berbahaya, seperti gas beracun atau bahan korosif, dan mengendalikannya melalui penggunaan alat pelindung diri, ventilasi yang memadai, dan penyimpanan yang aman.

Contoh Risk Assessment K3 di Industri Konstruksi

Industri konstruksi memiliki risiko yang berbeda dibandingkan industri lainnya, karena melibatkan pekerjaan di lokasi yang berbeda dan penggunaan peralatan berat. Berikut adalah contoh risk assessment K3 yang khusus untuk industri konstruksi:

1. Identifikasi Risiko pada Pekerjaan Ketinggian

Pekerjaan ketinggian seperti bekerja di atas atap bangunan atau menara dapat menyebabkan risiko jatuh. Identifikasi risiko dan pengendalian risiko harus dilakukan dengan penggunaan pengaman jatuh yang tepat, pelatihan karyawan tentang teknik bekerja di ketinggian, dan inspeksi rutin terhadap peralatan pengaman.

2. Evaluasi Risiko pada Penggunaan Alat Berat

Penggunaan alat berat seperti derek, ekskavator, atau truk dalam industri konstruksi dapat menyebabkan risiko kecelakaan serius. Evaluasi risiko harus dilakukan untuk menentukan langkah-langkah pengendalian yang diperlukan, seperti pelatihan operator, perawatan rutin, dan penggunaan tanda peringatan yang jelas di area kerja.

3. Pengendalian Risiko pada Pekerjaan Galian

Pekerjaan galian seperti penggalian lubang atau parit dapat menyebabkan risiko ambruk tanah atau tertimbun. Pengendalian risiko harus dilakukan dengan penggunaan peralatan perlindungan diri yang tepat, pengawasan yang ketat, dan pemasangan penyangga atau dinding penahan tanah jika diperlukan.

Contoh Risk Assessment K3 di Industri Perhotelan

Industri perhotelan memiliki risiko yang berbeda terkait dengan kegiatan operasional dan pelayanan kepada tamu. Berikut adalah contoh risk assessment K3 yang khusus untuk industri perhotelan:

1. Identifikasi Risiko pada Area Pelayanan Makanan

Area pelayanan makanan seperti dapur atau restoran dapat menyebabkan risiko kebakaran, terjatuh, atau keracunan makanan. Identifikasi risiko dan pengendalian risiko harus dilakukan dengan penggunaan peralatan keamanan, pelatihan karyawan tentang kebersihan dan sanitasi, serta pelaksanaan prosedur kebakaran yang ketat.

2. Evaluasi Risiko pada Kebersihan dan Kebersihan

Kebersihan dan kebersihan adalah faktor penting dalam industri perhotelan. Risiko terkait dengan kebersihan dan kebersihan, seperti penyebaran penyakit atau infestasi serangga, harus dievaluasi dan dikendalikan melalui pelatihan karyawan, penggunaan bahan pembersih yang aman, dan penerapan protokol kebersihan yang ketat.

3. Pengendalian Risiko pada Area Kolam Renang

Area kolam renang dalam industri perhotelan dapat menyebabkan risiko tenggelam atau cedera. Pengendalian risiko harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat, tanda peringatan yang jelas, dan pelatihan karyawan tentang pertolongan pertama dan peraturan keselamatan kolam renang.

Kesalahan Umum dalam Risk Assessment K3 dan Cara Menghindarinya

Dalam melakukan risk assessment K3, ada beberapa kesalahan umum yang sering terjadi. Berikut adalah beberapa kesalahan umum dan cara menghindarinya:

1. Tidak Melibatkan Semua Pihak Terkait

Kesalahan umum yang sering terjadi dalam risk assessment K3 adalah tidak melibatkan semua pihak terkait, seperti manajemen, karyawan, dan ahli K3. Untuk menghindari kesalahan ini, penting untuk melibatkan semua pihak yang terlibat dalam proses risk assessment dan mendengarkan masukan serta pengalaman mereka. Hal ini akan memastikan bahwa semua risiko yang relevan diidentifikasi dan langkah-langkah pengendalian yang tepat diambil.

2. Tidak Melakukan Evaluasi Risiko dengan Cermat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak melakukan evaluasi risiko dengan cermat. Evaluasi risiko yang buruk dapat mengakibatkan underestimasi risiko atau tidak mengambil langkah-langkah pengendalian yang diperlukan. Untuk menghindari kesalahan ini, pastikan Anda menggunakan metode penilaian risiko yang tepat, mempertimbangkan semua faktor yang relevan, dan mencari masukan dari ahli K3 jika diperlukan.

3. Tidak Melakukan Pembaruan Secara Berkala

Risiko di tempat kerja dapat berubah seiring waktu, oleh karena itu, penting untuk melakukan pembaruan risk assessment secara berkala. Kesalahan umum adalah tidak melakukan pembaruan teratur atau mengabaikan perubahan lingkungan kerja. Untuk menghindari kesalahan ini, jadwalkan pembaruan risk assessment secara berkala dan perbarui dokumen risk assessment setiap kali ada perubahan signifikan di tempat kerja.

Manfaat dan Pentingnya Risk Assessment K3 dalam Dunia Kerja

Risk assessment K3 memiliki manfaat dan pentingnya yang signifikan dalam dunia kerja. Berikut adalah beberapa manfaat dan pentingnya risk assessment K3:

1. Mengidentifikasi Risiko yang Mungkin Terjadi

Dengan melakukan risk assessment K3, perusahaan dapat mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi di tempat kerja. Ini memungkinkan perusahaan untuk mengambil langkah-langkah preventif yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut, sehingga melindungi karyawan dan aset perusahaan.

2. Mencegah Terjadinya Cedera dan Kecelakaan Kerja

Risk assessment K3 membantu mencegah terjadinya cedera dan kecelakaan kerja dengan mengidentifikasi risiko yang terkait dengan aktivitas kerja dan mengambil langkah-langkah pengendalian yang tepat. Dengan mengurangi risiko, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat bagi karyawan.

3. Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi

Dengan mengurangi risiko, risk assessment K3 dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tempat kerja. Karyawan yang merasa aman dan dilindungi cenderung bekerja lebih baik dan lebih fokus, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan.

4. Meningkatkan Reputasi Perusahaan

Perusahaan yang memiliki program risk assessment K3 yang baik dan peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja cenderung memiliki reputasi yang baik. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan karyawan, pelanggan, dan mitra bisnis serta meningkatkan citra perusahaan di mata masyarakat.

5. Mematuhi Peraturan dan Standar Keselamatan

Melakukan risk assessment K3 juga penting untuk mematuhi peraturan dan standar keselamatan yang berlaku. Dengan memastikan kepatuhan terhadap peraturan, perusahaan dapat menghindari sanksi hukum dan menjaga reputasi yang baik di mata otoritas pengawas dan masyarakat umum.

Dalam kesimpulan, melakukan risk assessment K3 yang komprehensif dan terperinci merupakan langkah penting dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja di tempat kerja. Dengan mengikuti panduan yang telah kami berikan dalam artikel ini, diharapkan Anda dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana melakukan risk assessment K3 secara efektif. Dengan demikian, perusahaan Anda dapat meminimalkan risiko dan melindungi karyawan dari bahaya potensial.

Ingatlah selalu untuk selalu memperbarui risk assessment K3 secara berkala, mengikuti perubahan lingkungan kerja, dan melibatkan semua pihak terkait dalam proses ini. Dengan demikian, Anda akan dapat menjaga tempat kerja yang aman dan sehat bagi semua karyawan.

Related posts:

K3

  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Term Of Service

Ekonomi Bergerak

Mengenal Risk Assessment, Metode, dan Langkah Analisisnya

Pada dasarnya, penilaian risiko atau risk assessment adalah bagian dari prosedur manajemen K3 dalam suatu perusahaan yang perlu dilaksanakan sebagai wujud pencegahan kecelakaan kerja.

Dengan risk assessment akan mempermudah karyawan untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko apa saja yang bisa timbul di tempat kerja. Sehingga, kemudian seorang karyawan dapat menentukan seberapa jauh tingkat risiko tersebut dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi atau mengendalikan risiko tersebut.

Lalu, apa saja manfaat dari dilakukannya penilaian risiko tersebut? Bagaimana metode dan analisis risk assessment dalam sebuah perusahaan? Berikut ini adalah ulasannya.

risk assessment k3 adalah

Apa itu Risk Assessment?

Maksud dari risk assesment adalah suatu proses yang sistematik dan terstruktur untuk menilai dan mengintegrasikan pertimbangan profesional mengenai kemungkinan kondisi yang jelek sehingga dapat diambil tindakan lanjutan yang tepat.

Baca juga: Jenis-Jenis Risiko Usaha

Tujuan Risk Assessment

Tujuan melaksanakan risk assessment adalah untuk memungkinkan perusahaan untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja.

Manfaat Dilakukannya Risk Assessment

Manfaat dari risk assessment yang apabila diterapkan secara terstruktur dalam sebuah perusahaan adalah:

  • Mengidentifikasi bahaya dan risiko yang mungkin akan timbul di tempat kerja dan mengevaluasi risikonya untuk kemudian dapat ditentukan langkah apa yang harus mereka ambil untuk melindungi keselamatan pekerjanya.
  • Dengan risk assessment perusahaan akan mendapatkan sejumlah pilihan informasi terbaik dari mulai peralatan kerja, jam kerja, dan bagaimana mengelola perusahaan.
  • Memeriksa apakah standar operasional prosedur (SOP) di tempat kerja sudah memadai ataukah belum.
  • Memprioritaskan tindakan yang tepat jika dbutuhkan tindakan lebih lanjut.
  • Memastikan bahwa langkah pencegahan dan metode kerja dan produksi, yang dilaksanakan setelah dilakukannya risk assessment, memberikan perbaikan dalam tingkat perlindungan pekerja.

Baca juga: Penerapan Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

Metode Risk Assessment Dan Analisisnya

Banyak alat dan metodologi risk assessment yang tersedia untuk membantu perusahaan dan organisasi dalam menilai risiko mereka. Pilihan metode akan tergantung pada kondisi perusahaan, mulai dari jumlah pegawai, jenis aktivitas usaha, dan peralatan yang dibutuhkan.

Penilaian risiko yang paling umum adalah checklist, yang merupakan alat dan metodologi yang berguna untuk membantu mengidentifikasi bahaya dan juga risiko. Jenis lain dari alat risk assessment meliputi: panduan, dokumen panduan, buku panduan, brosur, kuesioner, dan alat interaktif lainnya.

Setelah semua risiko dapat teridentifikasi, maka langkah yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melakukan penilaian risiko melalui analisis dan evaluasi risiko. Analisis risiko ini dilakukan perusahaan untuk membantu menentukan besarnya suatu risiko dengan mempertimbangkan seberapa mungkin terjadinya dan seberapa besar akibat yang ditimbulkannya. 

Berdasarkan hasil analisis dapat ditentukan perangkat risiko sehingga dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan.

Terdapat dua penilaian dalam risk assessment, yaitu:

  • Likelihood, yaitu penilaian risiko yang berguna untuk menunjukkan seberapa mungkin kecelakaan itu terjadi.
  • Severity, yaitu penilaian risiko yang berguna menunjukkan seberapa parah dampak dari kecelakaan.

Dengan nilai likelihood dan severity di atas perusahaan akan dapat menentukan risk rating. Risk rating merupakan nilai risiko yang ada apakah dalam tingkat low, moderate, high atau extreme. 

Berikut ini adalah tabel skala likelihood berdasarkan Standar AS/NZS 4360: 2004

Adapun langkah risk assessment menurut ILO adalah sebagai berikut:

  • Pencegahan risiko kerja;
  • Memberikan informasi kepada pekerja;
  • Memberikan pelatihan kepada pekerja;
  • Menyediakan organisasi dan sarana untuk melaksanakan tindakan yang diperlukan

Bagikan Artikel ini

Related Posts

Berlangganan via email (gratis):

Post a Comment

Blog archive.

  • ►  March (1)
  • ►  December (2)
  • ►  November (5)
  • ►  October (11)
  • ►  September (2)
  • ►  August (6)
  • ►  July (5)
  • ►  June (13)
  • ►  May (9)
  • ►  April (5)
  • ►  March (4)
  • ►  February (3)
  • ►  January (16)
  • ►  December (36)
  • ►  November (12)
  • ►  October (12)
  • ►  September (5)
  • ►  August (3)
  • ►  July (9)
  • ►  June (10)
  • ►  May (14)
  • ►  April (8)
  • ►  March (18)
  • ►  February (15)
  • ►  December (13)
  • ►  November (21)
  • ►  October (23)
  • ►  September (7)
  • ►  July (20)
  • ►  June (15)
  • ►  May (19)
  • Mengenal Strategi Bundling Untuk Marketing Yang Su...
  • 13 Daftar Lengkap Simbol Bahan Kimia dan Artinya, ...
  • Rumus Produktivitas dan Aspek-Aspek dalam Produkti...
  • Tugas Manajemen SDM dan Gaya Kepemimpinannya
  • Perbedaan Sales Taking Order, Sales Motoris, dan S...
  • Mengenal Risk Assessment, Metode, dan Langkah Anal...
  • Cara Membuat Feasibility Study dan Contohnya
  • Tugas dan Alat-Alat Marketing Public Relations Seb...
  • Cara Menyusun Visual Merchandising yang Baik
  • Pengangguran Struktural: Pengertian, Faktor Penyeb...
  • Apa itu Perusahaan Sekuritas? Berikut Daftar Sekur...
  • Pasar Modal Syariah: Fungsi dan Perbedaannya denga...
  • Ini Lho Komunikasi Pemasaran yang Bisa Digunakan o...
  • Pengertian Viral Marketing dan Tools Strategi Prom...
  • ►  March (21)
  • ►  February (16)
  • ►  January (21)
  • ►  December (29)
  • ►  November (30)
  • ►  October (16)
  • ►  September (20)
  • ►  August (12)
  • ►  July (16)
  • ►  June (5)
  • ►  May (3)
  • ►  January (9)
  • ►  December (11)
  • ►  September (6)
  • ►  August (14)
  • ►  July (10)
  • ►  April (4)
  • ►  March (2)
  • ►  February (1)
  • ►  January (3)
  • ►  October (2)
  • ►  September (13)
  • ►  August (11)

Apa yang Dimaksud dengan Penilaian Risiko K3, Langkah dan Cara Melakukannya

  • April 8, 2022

Penilaian risiko K3 sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi bahaya di tempat kerja. Simak pengertian serta langkah-langkah melakukannya berikut ini!

Dalam berbagai industri, implementasi K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dilakukan dan diawasi dengan baik. Tujuannya adalah untuk menjamin kesempurnaan fisik maupun mental para pekerja saat melakukan tugasnya di tempat kerja. Salah satu langkah penting tujuan ini bisa tercapai adalah dengan melakukan penilaian risiko K3.

Apa Itu Penilaian dan Pengendalian Risiko K3?

Penilaian risiko K3 sendiri adalah serangkaian pendekatan sistematis yang dilakukan untuk bisa mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan kerja.

Langkah ini dilakukan untuk membantu mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan cedera pada manusia serta menginformasikan langkah-langkah pengendalian untuk menurunkan risiko cedera pada tingkat yang bisa ditoleransi.

Adanya penilaian risiko K3 diharapkan bisa membuat semua komponen dalam perusahaan tahu cara pengendalian operasional apa yang perlu dilakukan jika ditemukan risiko yang signifikan.

Penilaian risiko bukanlah aktivitas yang dilakukan untuk menghilangkan semua risiko di tempat kerja. Tidak pula bertujuan untuk menghapus kegiatan yang dianggap membahayakan (padahal kegiatan itu dibutuhkan dalam proses operasional).

Faktanya, kita memang selalu hidup berdampingan dengan risiko. Alih-alih melarang anak menyeberang jalan, tentu akan lebih baik jika anak tersebut diajari tentang cara menyeberang jalan yang aman. Hal yang sama juga berlaku dalam penilaian risiko K3.

Pengertian Risiko K3 dan Tingkatan Risiko K3

Pada dasarnya tingkat risiko K3 pada setiap jenis industri berbeda-beda. Industri kimia, tentu memiliki risiko berbeda dengan industri konstruksi. Begitu juga dengan industri jasa atau produksi makanan. Lalu, apa sebenarnya risiko K3 itu?

Jika dilihat dari definisinya, risiko K3 merupakan potensi kerugian yang bisa muncul jika terjadi kontak dengan sumber bahaya maupun kegagalan fungsi dalam kegiatan operasional. Penilaian operasional sendiri dilakukan dengan mengalikan antara nilai frekuensi dengan tingkat keparahan dari sebuah risiko.

Risiko bisa dikategorikan dalam 4 jenis yakni risiko rendah, sedang, tinggi dan risiko ekstrem. Untuk mengetahuinya, Anda bisa menggunakan tabel matriks risiko berikut ini:

Setelah proses penilaian risiko, maka akan diperoleh 4 kategori risiko yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda yakni:

  • Untuk aktivitas dengan risiko rendah, diperlukan aturan, rambu-rambu atau prosedur untuk meminimalisasinya
  • Untuk aktivitas dengan risiko sedang, diperlukan tindakan langsung
  • Untuk aktivitas dengan risiko tinggi, diperlukan perencanaan pengendalian
  • Untuk aktivitas dengan risiko ekstrem memerlukan tindakan dari manajemen atas.

Lewat representasi di atas, Anda bisa menentukan langkah pengendalian risiko terbaik dengan menggunakan 5 hierarki pengendalian risiko K3.

Langkah-langkah Penilaian Risiko K3

Seperti yang sudah disebutkan di awal pembahasan, penilaian risiko dimaksudkan untuk menetapkan kemungkinan adanya dampak dari sumber risiko yang bisa menghambat tercapainya sasaran dan tujuan organisasi. Penilaian risiko K3 memiliki sejumlah manfaat yakni:

  • Membantu perusahaan mencapai tujuan dengan lancar
  • Menciptakan hubungan yang berkesinambungan antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan
  • Memungkinkan perusahaan atau organisasi memberikan pelayanan secara efisien dan efektif
  • Menjadi acuan dalam pembuatan rencana strategis
  • Mencegah kerugian akibat pemborosan.

Pelaksanaan penilaian risiko dilakukan dengan beberapa langkah dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penilaian juga wajib dilakukan dengan cara yang sistematis, kolaboratif serta iterative dengan menggunakan pandangan dan pengetahuan dari para pemangku kepentingan. Adapun tahapan atau langkah-langkahnya adalah:

Mengidentifikasi Risiko

Identifikasi risiko merupakan langkah pertama dalam proses penilaian risiko K3. Ini dilakukan dengan mencari informasi mengenai peristiwa atau kejadian dalam kegiatan operasional yang bisa menghambat tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan.

Artinya, tim penilai harus membuat daftar risiko yang ada dengan menggunakan 4 W + 1 H (apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana) suatu peristiwa dapat terjadi dan bagaimana peristiwa itu bisa berpengaruh pada tujuan.

Pendataan ini akan menghasilkan output berupa profil risiko yang mengandung berbagai informasi termasuk jenis peristiwa risiko, penyebab risiko, pemilik risiko, pengendalian yang sudah pernah dibuat dan sisa risiko dari setiap aktivitas yang dinilai risikonya.

Ada berbagai metode yang dapat digunakan dalam proses identifikasi risiko antara lain dengan menggunakan checklist (sesuai dokumen dan pengalaman), kajian dokumen, analisis SWOT, survei, wawancara, flowchart , analisis sistem dan lain sebagainya.

Penggunaan metode yang tepat serta keterlibatan dengan pemilik risiko akan menghasilkan identifikasi risiko yang tepat dan akurat.

Menganalisis Risiko

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam penilaian risiko K3 adalah dengan melakukan analisis risiko. Analisis risiko sendiri adalah sebuah proses yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan seberapa sering sebuah risiko terjadi serta seberapa tinggi konsekuensi yang muncul karenanya (lihat kembali bagian matriks risiko K3).

Maksud dari analisis risiko adalah untuk mengetahui risiko mana yang harus dikelola dan diprioritaskan penanganannya.

Analisis risiko juga bisa dipahami sebagai proses untuk memahami karakteristik risiko baik dari segi dampak maupun probabilitasnya dengan menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Hasil yang diperoleh dari analisis ini adalah Level of Risks (Level Risiko) yang signifikan.

Pada tahapan ini, pimpinan perusahaan memiliki peran yang sangat penting dalam pengendalian dan pengelolaan risiko sesuai dengan tingkat risiko yang bisa ditoleransi. Tingkat risiko yang bisa ditoleransi dilihat dengan pertimbangan aspek manfaat dan biayanya.

Mengevaluasi Risiko

Ini merupakan langkah akhir dari rangkaian penilaian risiko K3. Evaluasi risiko dilakukan untuk membantu perusahaan mengambil keputusan sesuai dengan hasil analisis risikonya. Caranya adalah dengan membandingkan tingkat level risiko yang berhasil diidentifikasi dalam proses analisis dengan kriteria risiko yang sudah ada sebelumnya.

Proses evaluasi ini menentukan bagaimana setiap risiko akan diperlakukan (lihat bagian kategori risiko). Tahapan dalam evaluasi ini dilakukan dengan membuat daftar risiko dan prioritasnya dengan menggunakan ketentuan:

  • Risiko yang paling tinggi levelnya harus diprioritaskan
  • Jika ada beberapa risiko dengan level sama, maka yang diprioritaskan adalah area dengan dampak tertinggi sampai paling rendah berdasarkan kriteria dampaknya
  • Kalau ternyata masih ada beberapa area dengan dampak yang sama, maka prioritas ditentukan dengan menggunakan urutan kategori risiko terbesar sampai terkecil berdasarkan kategori risiko
  • Kalau masih ada beberapa area dengan dampak dan kategori risiko yang sama, maka penentuan prioritas dilakukan berdasarkan pertimbangan pemilik risiko.

Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang penilaian risiko K3. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai prosedur penilaian ini, Anda bisa mengikuti pelatihan ahli K3 bersama Mutu Institute. Dengan pengalaman selama bertahun-tahun, Mutu Institute siap mencetak ahli K3 terbaik di dunia kerja.

Ingin mengikuti Pelatihan/Training? Belum dapat Lembaga Pelatihan yang terpercaya? Segera hubungi kami melalui  [email protected]  atau  .  Ikuti Training sesuai kebutuhan Anda Bersama Kami. Anda dapat mengajukan pelatihan sesuai kebutuhan perusahaan maupun individu. Hubungi Mutu Institute sekarang juga. Follow juga Instagram Mutu Institute di  @mutu_institute  untuk update pelatihan lainnya.

Tami Mutu Institute

Professional Trainer

Related Post

Publik training pemahaman standar sertifikasi ifcc, penandatanganan perjanjian kerja sama program pelatihan pengembangan sdm pks tahun 2024, mengenang hari pendidikan nasional: membangun masa depan bangsa.

TeknikSipil.id

Home » Contoh Risk Assessment K3: Panduan Praktis untuk Identifikasi dan Evaluasi Risiko

Contoh Risk Assessment K3: Panduan Praktis untuk Identifikasi dan Evaluasi Risiko

May 17, 2024 4 min read

Dalam dunia kerja yang semakin kompleks, “Contoh Risk Assessment K3” menjadi alat penting untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang terkait dengan aktivitas kerja. Dengan mengadopsi pendekatan proaktif, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat bagi karyawan mereka.

Artikel ini akan menyajikan panduan komprehensif tentang contoh risk assessment K3, memberikan wawasan tentang konsep dasar, metodologi, komponen, dan tindak lanjutnya. Dengan pemahaman yang jelas tentang proses ini, organisasi dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan risiko dan memastikan keselamatan di tempat kerja.

Konsep Dasar Risk Assessment K3

Daftar Isi:

Risk assessment K3 merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko potensial di lingkungan kerja. Proses ini bertujuan untuk mengendalikan dan mengurangi risiko kecelakaan, cedera, atau penyakit terkait pekerjaan.

Contoh Penerapan Risk Assessment K3, Contoh risk assessment k3

  • Mengidentifikasi bahaya potensial di area kerja, seperti peralatan berat, bahan kimia, atau ruang terbatas.
  • Menilai kemungkinan dan tingkat keparahan potensial dari risiko yang diidentifikasi.
  • Mengembangkan dan menerapkan langkah-langkah pengendalian untuk meminimalkan risiko.
  • Melakukan pemantauan dan tinjauan berkelanjutan untuk memastikan efektivitas langkah-langkah pengendalian.

Manfaat Melakukan Risk Assessment K3

  • Mengurangi insiden kecelakaan dan cedera di tempat kerja.
  • Meningkatkan kesehatan dan keselamatan pekerja.
  • Memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan standar K3.
  • Meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
  • Mengurangi biaya terkait cedera dan kecelakaan.

Metodologi Risk Assessment K3

Risk assessment K3 merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko potensial di tempat kerja. Metodologi ini melibatkan beberapa langkah penting yang harus diikuti untuk memastikan penilaian risiko yang komprehensif dan efektif.

Langkah-Langkah dalam Risk Assessment K3

  • Mengidentifikasi Bahaya: Langkah pertama adalah mengidentifikasi semua potensi bahaya di tempat kerja, termasuk bahaya fisik, kimia, biologis, ergonomis, dan psikologis.
  • Menilai Risiko: Setelah bahaya diidentifikasi, setiap bahaya dinilai berdasarkan kemungkinan terjadinya dan tingkat keparahan potensialnya. Penilaian ini dapat dilakukan menggunakan teknik kualitatif atau kuantitatif.
  • Mengevaluasi Risiko: Hasil penilaian risiko kemudian dievaluasi untuk menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Jika risiko tidak dapat diterima, tindakan pengendalian harus diterapkan.
  • Menerapkan Tindakan Pengendalian: Tindakan pengendalian diimplementasikan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang teridentifikasi. Tindakan ini dapat meliputi perubahan proses, penggunaan alat pelindung diri (APD), atau pelatihan karyawan.
  • Memantau dan Meninjau: Setelah tindakan pengendalian diterapkan, risiko harus dipantau dan ditinjau secara berkala untuk memastikan efektivitasnya dan untuk mengidentifikasi setiap perubahan yang mungkin memerlukan penilaian ulang risiko.

Komponen Risk Assessment K3

Risk assessment K3 merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya di tempat kerja. Memahami komponen utamanya sangat penting untuk melakukan penilaian risiko yang efektif.

Dalam melakukan risk assessment K3, penting untuk mempertimbangkan berbagai indikator yang dapat mengukur tingkat risiko. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menggunakan Lagging Dan Leading Indicator Dalam K3 ( Baca di sini ). Dengan mengidentifikasi indikator-indikator ini, organisasi dapat mengidentifikasi potensi bahaya dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Hal ini akan membantu organisasi dalam menyusun risk assessment K3 yang komprehensif dan efektif.

Komponen utama risk assessment K3 meliputi:

Bahaya adalah sumber potensial cedera atau kerugian yang dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Bahaya dapat berupa fisik, kimia, biologis, ergonomis, atau psikologis.

Konsekuensi

Konsekuensi adalah hasil potensial dari paparan bahaya. Konsekuensi dapat berkisar dari cedera ringan hingga kematian atau penyakit parah.

Contoh risk assessment K3 memainkan peran penting dalam mengidentifikasi dan meminimalkan risiko di tempat kerja. Untuk melengkapi langkah ini, perusahaan juga perlu mengembangkan prosedur peringatan dini dan tanggap darurat K3 yang komprehensif. Contoh Prosedur peringatan dini dan Tanggap Darurat K3 ini memberikan panduan langkah demi langkah tentang cara merespons insiden secara efektif, meminimalkan dampak, dan memastikan keselamatan karyawan.

Dengan menggabungkan risk assessment K3 dan prosedur tanggap darurat yang kuat, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan meminimalkan potensi kerugian.

Kemungkinan

Kemungkinan adalah probabilitas terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja akibat bahaya tertentu. Kemungkinan dapat berkisar dari tidak mungkin hingga pasti.

Tingkat Risiko

Tingkat risiko adalah ukuran tingkat keparahan potensial bahaya. Tingkat risiko ditentukan dengan menggabungkan kemungkinan dan konsekuensi.

Faktor-faktor yang memengaruhi penilaian risiko meliputi:

  • Jenis dan tingkat keparahan bahaya
  • Jumlah orang yang terpapar bahaya
  • Durasi dan frekuensi paparan
  • Tindakan pengendalian yang ada
  • Efektivitas tindakan pengendalian

Tingkat risiko diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Rendah: Kemungkinan dan konsekuensi rendah
  • Sedang: Kemungkinan atau konsekuensi sedang
  • Tinggi: Kemungkinan atau konsekuensi tinggi
  • Ekstrem: Kemungkinan dan konsekuensi sangat tinggi

Contoh Risk Assessment K3

Contoh risk assessment k3

Risk assessment K3 merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko potensial yang terkait dengan aktivitas kerja. Dengan menerapkan risk assessment K3, organisasi dapat mengelola risiko secara efektif dan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi karyawannya.

Contoh Kasus Nyata Penerapan Risk Assessment K3

Dalam industri manufaktur, sebuah pabrik melakukan risk assessment K3 untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko yang terkait dengan proses pengelasan. Risk assessment tersebut mengidentifikasi beberapa risiko potensial, termasuk:

  • Paparan asap dan gas berbahaya
  • Bahaya kebakaran dan ledakan
  • Cedera mata akibat percikan logam

Setelah mengidentifikasi risiko-risiko ini, pabrik menerapkan tindakan pengendalian untuk meminimalkan risiko tersebut, seperti:

  • Menggunakan sistem ventilasi untuk menghilangkan asap dan gas
  • Menyediakan alat pelindung diri yang sesuai, seperti kacamata pengaman dan sarung tangan
  • Melakukan pelatihan keselamatan bagi karyawan

Skenario Hipotetis dan Risk Assessment

Sebagai contoh hipotetis, pertimbangkan sebuah perusahaan konstruksi yang sedang membangun gedung pencakar langit. Risk assessment K3 dapat dilakukan untuk mengidentifikasi risiko potensial yang terkait dengan proses konstruksi, seperti:

  • Jatuh dari ketinggian
  • Tertimpa benda berat
  • Kontak dengan bahan kimia berbahaya

Perusahaan konstruksi dapat menggunakan hasil risk assessment untuk mengembangkan rencana keselamatan yang komprehensif untuk mengendalikan risiko-risiko tersebut.

Contoh risk assessment K3 yang komprehensif mencakup evaluasi berbagai faktor risiko, termasuk pencahayaan yang memadai di tempat kerja. Standar Pencahayaan di Ruangan Tempat Kerja memberikan pedoman penting untuk memastikan pencahayaan yang optimal, yang sangat penting untuk kesehatan dan keselamatan karyawan.

Dengan mengidentifikasi dan mengendalikan risiko yang terkait dengan pencahayaan yang tidak memadai, risk assessment K3 membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.

Kutipan Ahli tentang Pentingnya Risk Assessment K3

“Risk assessment K3 sangat penting untuk memastikan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko potensial, organisasi dapat mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan risiko tersebut dan melindungi karyawan mereka dari bahaya.” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Tindak Lanjut Risk Assessment K3

Contoh risk assessment k3

Setelah melakukan risk assessment K3, langkah selanjutnya adalah mengambil tindakan untuk meminimalkan risiko yang telah diidentifikasi.

Tindakan ini dapat mencakup pengembangan dan penerapan rencana pengendalian risiko, serta pemantauan dan peninjauan risk assessment secara berkala.

Dalam mengelola risiko K3, salah satu contoh yang krusial adalah risk assessment. Proses ini membantu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi potensi bahaya di tempat kerja. Perbedaan mendasar antara HSE (Health, Safety, and Environment) dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) perlu dipahami untuk memastikan implementasi yang efektif ( perbedaan HSE dan K3 ). HSE berfokus pada aspek yang lebih luas, termasuk lingkungan, sementara K3 berpusat pada keselamatan dan kesehatan karyawan di tempat kerja.

Risk assessment yang komprehensif dalam K3 sangat penting untuk memastikan perlindungan pekerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Rencana Pengendalian Risiko

Rencana pengendalian risiko menguraikan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang diidentifikasi.

Rencana ini harus mencakup:

  • Tindakan pengendalian yang akan diambil
  • Orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan
  • Tenggat waktu untuk menyelesaikan tindakan
  • Cara memantau efektivitas tindakan

Pemantauan dan Peninjauan Risk Assessment

Risk assessment harus dipantau dan ditinjau secara berkala untuk memastikan bahwa risiko dikelola secara efektif.

Pemantauan melibatkan pengumpulan data tentang kinerja tindakan pengendalian risiko.

Peninjauan melibatkan evaluasi data pemantauan dan melakukan penyesuaian pada risk assessment atau rencana pengendalian risiko sesuai kebutuhan.

Ringkasan Penutup

Contoh risk assessment K3 memainkan peran penting dalam memastikan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko secara sistematis, organisasi dapat mengambil tindakan proaktif untuk mengurangi potensi kecelakaan, cedera, dan penyakit di tempat kerja. Pendekatan ini tidak hanya melindungi kesejahteraan karyawan tetapi juga meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara keseluruhan.

Menerapkan contoh risk assessment K3 adalah investasi penting dalam keselamatan dan kesejahteraan karyawan, yang mengarah pada lingkungan kerja yang lebih positif dan berkelanjutan.

Jawaban yang Berguna: Contoh Risk Assessment K3

Apa manfaat utama dari melakukan risk assessment K3?

Manfaat utama meliputi: identifikasi risiko yang tepat waktu, pengurangan kecelakaan dan cedera, peningkatan keselamatan karyawan, kepatuhan terhadap peraturan, dan pengurangan biaya terkait kecelakaan.

Siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan risk assessment K3?

Tanggung jawab utama terletak pada pemberi kerja, dengan keterlibatan karyawan, perwakilan pekerja, dan ahli keselamatan jika diperlukan.

Bagaimana cara mengklasifikasikan tingkat risiko?

Tingkat risiko biasanya diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, tinggi, dan ekstrem, berdasarkan kemungkinan dan konsekuensi dari risiko yang diidentifikasi.

' src=

Prosedur Keselamatan Kerja: Panduan Penting untuk Laboratorium

' src=

Memahami JSA Pertambangan: Pengertian dan Contoh

Pengertian dan contoh limbah industri: bahaya tersembunyi di balik…, leave a reply cancel reply.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

logo PT Megah Anugerah Energi (MAE)

Beranda » Blog » HIRADC: Pengertian, Tahapan, Tujuan, Perbedaan dengan JSA

HIRADC: Pengertian, Tahapan, Tujuan, Perbedaan dengan JSA

  • Nandya Amalia Dewi
  • September 5, 2022

HIRADC dalam K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Apapun pekerjaan yang dilakukan, ada kemungkinan kita menemui terjadinya kecelakaan kerja. Dalam hal ini setiap perusahaan harus memiliki seseorang yang ahli di bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) untuk mencegah hal tersebut. 

Ahli K3 atau disebut juga HSE Officer merupakan seseorang yang bekerja untuk melakukan investigasi, identifikasi, pengendalian kecelakaan kerja, dan penerapan keselamatan kerja. Dalam proses kerjanya, seorang ahli K3 perlu melakukan asesmen terhadap bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja. Asesmen ini dilakukan dengan metode HIRADC. 

Tentu kita penasaran apa itu HIRADC dalam lingkup kesehatan dan keselamatan kerja dan apa bedanya dengan JSA? Apa tujuan dilakukan asesmen dengan metode HIRADC? Simak pembahasan berikut ini tentang HIRADC.

Pengertian HIRADC

SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam sebuah organisasi berfungsi untuk menjalankan kebijakan K3 dan mengelola risiko K3 di dalam organisasi. Penerapan SMK3 berdasarkan pada standar OHSAS 18001:2007 dan ISO 14001:2004. 

Dikutip dari OHSAS 18001:2007 dalam Handoko dan Rahardjo (2017) dalam penelitiannya berjudul “Perancangan HIRADC di Schneider Electric Cikarang” menyebutkan standar OHSAS 18001:2007 bertujuan untuk mencegah potensi terjadinya kecelakaan kerja yang kemungkinan terjadi di lingkungan kerja akibat kondisi K3 yang bisa merugikan. Masih dari sumber yang sama, ISO 14001:2004 merupakan standarisasi yang mengatur tentang sistem manajemen lingkungan yang meliputi struktur organisasi, rencana kegiatan, tanggung jawab, latihan, prosedur, pengembangan, penerapan, evaluasi, dan pemeliharaan kebijakan.

HIRADC adalah kepanjangan dari Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control yang merupakan metode untuk identifikasi risiko kecelakaan dalam SMK3. HIRADC adalah salah satu persyaratan OHSAS 18001:2007 klausal 4.3.1 dan ISO 14001:2004. HIRADC dibagi menjadi 3 bagian sesuai dengan singkatannya, yaitu identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan kendali. Hasil dari penyusunan HIRADC digunakan untuk penyusunan tujuan dan target K3 yang akan dicapai.

Baca jug a: Apa itu CSR? – Definisi, Fungsi, Tipe, Dampak, & Contohnya

Tahapan HIRADC

Sebuah organisasi dalam prosesnya menjalankan SMK3 perlu membuat tujuan dan target sehingga untuk menyusun hal tersebut digunakan metode HIRADC. Tahapan HIRADC sebagai berikut.

1. Identifikasi Bahaya ( Hazard Identification )

Dikutip dari Handoko dan Rahardjo (2017) dalam penelitiannya berjudul “Perancangan HIRADC di Schneider Electric Cikarang”, identifikasi bahaya dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya yang dihadapi para pekerja saat melakukan pekerjaan. Bahaya-bahaya ini harus ditemukan sebelum menyebabkan kecelakaan dan merugikan bagi pekerja maupun perusahaan. Identifikasi bahaya dilakukan dengan melakukan wawancara, pengamatan, dan melihat riwayat data.

2. Penilaian Risiko ( Risk Assessment )

Tahapan ini dilakukan setelah menemukan potensi bahaya dari tahap identifikasi bahaya untuk ditentukan risk level dari bahaya tersebut. Penentuan tingkat risiko ini dibedakan menjadi kecil, sedang, besar, dan dapat diabaikan. Hasil identifikasi dan penilaian risiko kemudian dimasukkan ke dalam matriks penilaian. Matriks penilaiannya berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard for Risk Management .

3. Penentuan Kendali ( Determining Control )

Pengendalian ini dilakukan dari risiko yang levelnya paling tinggi. Pengendalian risiko ini dilakukan dengan mengurangi kemungkinan ( reduce likelihood ) dan mengurangi tingkat keparahan ( reduce sequence ). Pengendalian juga dapat dilakukan dengan mengalihkan risiko seluruhnya atau sebagian ( risk transfer ) atau menghindar dari risiko ( risk avoid ). Pengendalian risiko dilakukan berdasarkan hirarki kontrol, yaitu eliminasi, substitusi, engineering control , administrative control , dan APD. Untuk bahaya yang tingkat keparahannya moderate, high , dan extremely high harus dilakukan tindakan lebih lanjut.

Tujuan HIRADC

Tujuan HIRADC dilansir dari keselamatankerja.com antara lain:

Untuk mengidentifikasi bahaya dari semua penyebab bahaya yang dapat menjadi potensi kecelakaan bagi semua orang yang ada di lingkungan kerja.

Untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu serta dampak dan konsekuensi yang ditimbulkan.

3. Pengawasan

Untuk merencanakan, menyusun, dan memantau pengendalian yang berfungsi untuk memastikan bahwa risiko yang ditimbulkan dapat terkontrol menyeluruh dan setiap waktu.

Baca juga: Mengenal Istilah HSE dan Hubungannya dengan K3

Perbedaan HIRADC dan JSA

HIRADC yang merupakan singkatan dari hazard identification risk assessment and determining control adalah metode untuk mengidentifikasi bahaya yang dapat ditimbulkan setiap pekerjaan dalam sebuah organisasi yang kemudian dilakukan penilaian risiko dan pengendalian terhadap risiko tersebut.

Sedangkan JSA merupakan singkatan dari job safety analysis adalah dokumen yang memberikan pedoman dalam identifikasi secara jelas bahaya-bahaya potensi insiden yang berkaitan dengan setiap langkah pekerjaan, memberikan solusi untuk menghilangkan bahaya tersebut, dan mengurangi risiko bahayanya.

JSA ini tidak menyelamatkan pekerja dari keselamatan, namun selama proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang menentukan keselamatan. Sedangkan HIRADC dapat menilai tingkat bahaya setelah itu diturunkan lagi untuk dikendalikan sampai batas yang bisa diterima oleh perusahaan.

Lebih jelasnya perbedaan HIRADC dan JSA sebagai berikut:

  • Obyek yang dinilai adalah langkah-langkah dari sebelum dimulai pekerjaan hingga pekerjaan selesai.
  • Subyek yang dinilai adalah pekerja ( person ).
  • Langkah pengendalian bahaya sifatnya ke personal yang melakukan pekerjaan.
  • JSA berfokus pada pengendalian bahaya dengan APD dan alat keselamatan.
  • JSA berfokus juga pada unsafe act .
  • Obyek yang dinilai adalah bahaya dan risiko dari suatu pekerjaan.
  • Fokus yang ditinjau dari probabilitas dan dampak dari bahaya pekerjaan tersebur.
  • Subyek tidak ke personal, namun ke bahaya yang ditimbulkan dan dikendalikan hingga dapat diterima oleh perusahaan.
  • Pengendalian tidak hanya dengan APD, namun mengikuti hirarki kontrol, yaitu eliminasi, substitusi, engineering control , administrative control , dan APD, mitigasi , dan prosedur kerja.

Dalam proses kerja K3 di suatu organisasi, metode HIRADC tidak terlepas dari proses identifikasi hingga penyusunan target K3 organisasi. HIRADC membantu dalam identifikasi bahaya, penilaian tingkat risiko dari suatu potensi bahaya, dan pengendalian terhadap bahaya yang memiliki tingkat keparahan tinggi. HIRADC dan JSA tidak bisa dilepas dari SMK3 karena untuk menjalankan SMK3 harus memiliki dokumen-dokumen ini untuk penentuan target K3 ke depannya.

Solar Industri menawarkan paket pemesanan produk  bio solar B30 di seluruh wilayah Indonesia. Untuk pemesanan lintas negara, silakan hubungi kontak kami yang telah tersedia.

  • Energi dan Lingkungan

Artikel Terbaru

Galangan kapal: pengertian, prinsip, dan contohnya, reforming adalah: definisi, jenis, kelebihan, & kekurangan, kapal kontainer: definisi, keunggulan, dan fungsinya, kapal feri: pengertian, jenis, dan fungsinya, lambung kapal: pengertian, jenis, dan fungsinya, topik terkait lainnya.

Seoranng wanita yang sedang memegang lentera untuk menerangi

Energi Listrik: Definisi, Sumber, Manfaat, & Contohnya

Kompresi bensin: definisi, rasio, & cara menghitungnya, carbon capture storage (ccs) adalah: cara kerja & implikasinya, safety induction: pengertian, tujuan, contoh, dan prosedurnya, energi nuklir: pengertian, reaksi, dan contoh pemanfaatannya, kerak bumi: pengertian, gambar, ciri-ciri, fungsi, dan jenisnya, butuh informasi lebih lanjut.

Apabila anda tertarik dengan penawaran kami, konsultasikan segera kebutuhan anda dengan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi lebih detail terkait produk perusahaan.

Copyright ©2024 PT Jejaring Solusi Energi

Pertanyaan Umum Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (HIRA)

T: apa itu hira.

Program DAN Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) adalah adaptasi langsung dari program keselamatan institusional yang digunakan dalam perawatan kesehatan dan kedirgantaraan. Hal ini dirancang untuk mengajarkan Anda untuk mengidentifikasi risiko dan bahaya yang mempengaruhi Anda, staf Anda, pelanggan Anda dan bisnis Anda sebelum mereka dapat menyebabkan cedera atau kerugian. Tujuan dari program ini adalah untuk mengajari Anda mengevaluasi diri sendiri, terlepas apakah Anda telah berkecimpung dalam bisnis selama tiga tahun atau tiga dekade. Program ini memberi Anda alat untuk menilai bisnis Anda dan mengatasi bahaya atau risiko baru yang mungkin Anda abaikan dan memperbaiki masalah umum yang mungkin membahayakan Anda.

Q: Apakah HIRA hanya untuk toko selam?

Program DAN HIRA dirancang untuk semua profesional penyelaman. Baik Anda seorang divemaster, instruktur, operator charter, pemilik toko, atau menjalankan bisnis yang menawarkan olahraga air sebagai sumber pendapatan sekunder, HIRA dapat diterapkan pada operasi Anda. Karena basis pengguna yang luas untuk program ini, tidak semua aspek akan dapat diterapkan pada semua operasi - terserah Anda untuk menentukan bagian mana dari program ini yang dapat Anda manfaatkan. Ini adalah alat yang dirancang untuk membantu Anda mengelola risiko Anda sendiri - bukan program audit atau kepatuhan. Tujuannya adalah untuk membantu operator yang mampu dan bersemangat untuk meningkatkan bisnis mereka dan mengurangi tanggung jawab mereka.

T: Apa yang saya dapatkan dari program HIRA?

Bahkan para profesional selam yang tidak memiliki fasilitas fisik untuk menghadapi bahaya masih menghadapi banyak bahaya baik di dalam maupun di luar air. Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dalam operasi, manajemen tanggung jawab, dan bahkan pelanggan sangat penting bagi kemampuan para profesional untuk melindungi diri mereka sendiri dan murid-murid mereka serta beroperasi dengan sukses. Para profesional selam masih menghadapi risiko dari mengajar, mengangkut peralatan dan murid, menjalankan atau mengatur charter, dan banyak aspek lain yang diperlukan dari bisnis selam. Kekhawatiran ini sering diabaikan, dan menempatkan para profesional selam dalam bahaya. Program DAN HIRA dirancang untuk mengatasi hal itu dan membuat Anda tetap aman saat Anda mengajar dan melindungi murid-murid Anda.

Sebagai operator selam, program HIRA akan memperkenalkan Anda pada bidang manajemen risiko dan pertanggungjawaban yang sama sekali baru. Manajemen risiko yang terorganisir, seperti yang terlihat di bidang kedirgantaraan dan perawatan kesehatan, belum diadopsi di industri selam, meskipun jenis tuntutan hukum dan kerugian yang sama terjadi. Risiko ada di mana-mana di industri selam, dan mudah untuk menganggap remeh atau mengabaikan bahayanya. Sebagai operator dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas keselamatan karyawan dan pelanggan kami, itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami biarkan. Program DAN HIRA adalah salah satu cara bagi kami untuk memeriksa diri sendiri dan memastikan bahwa kami tidak menganggap remeh keselamatan. Tidak adanya kecelakaan tidak selalu menunjukkan keselamatan.

T: Mengapa HIRA Level III tidak tersedia untuk instruktur?

HIRA Level 3 adalah level program yang paling signifikan dan mendalam. Ini dirancang untuk mencakup setiap aspek operasi bisnis dan penyelaman, termasuk manajemen sumber daya manusia, undang-undang ketenagakerjaan dan keselamatan kerja karyawan, dan serangkaian masalah khusus bisnis. HIRA 3 hanya dapat digunakan sepenuhnya oleh mereka yang memiliki atau bertanggung jawab atas operasi fisik.

T: Apakah program HIRA membutuhkan biaya?

Program DAN HIRA dirancang untuk membantu industri selam berkembang, mengurangi kerugian bisnis, dan mencegah cedera. Industri selam tidak dapat bertahan tanpa para profesionalnya, dan meningkatkan keselamatan penyelaman tidak dapat dibatasi hanya untuk penyelam rekreasi. Program ini diberikan tanpa biaya kepada Anggota DAN Pro dan Bisnis sebagai cara proaktif untuk mempromosikan keselamatan di komunitas kami dan menjaga industri kami tetap berkembang.

T: Apa yang DAN lakukan dengan informasi dari survei HIRA?

Semua informasi yang diberikan selama survei HIRA adalah 100 persen rahasia. Informasi yang Anda berikan dianonimkan sebelum digunakan dalam analisis data untuk peningkatan program di masa mendatang. Anda adalah satu-satunya orang yang dapat mengakses hasil survei Anda kecuali Anda meminta konsultasi dari tim Manajemen Risiko DAN.

T: Saya telah berbisnis selama puluhan tahun tanpa masalah; mengapa saya harus mempertimbangkan mitigasi risiko sekarang?

Riwayat operasi yang aman dan sukses merupakan indikasi yang baik bahwa bisnis Anda sehat dan dijalankan dengan baik, namun bukan berarti Anda tidak berisiko. Risiko akan selalu ada, terlepas dari semua upaya terbaik yang telah dilakukan. Program HIRA DAN memungkinkan Anda untuk melihat kembali operasi Anda dengan mata yang kritis dan serangkaian kriteria yang luas. Terlalu mudah bagi kita yang paling berpengalaman sekalipun untuk berpuas diri dan mengabaikan bahaya lama atau risiko baru yang muncul. Dengan mengikuti program ini, Anda dapat memperkuat bahwa risiko Anda telah dikelola dengan baik, namun prosesnya setidaknya sama berharganya dengan hasilnya, dan Anda akan dapat menetapkan garis dasar yang dapat digunakan untuk mengukur bahaya dan operasi di masa depan.

T: Apakah HIRA akan mempengaruhi tarif asuransi saya?

Apakah program manajemen risiko yang diformalkan seperti program DAN HIRA akan mempengaruhi tarif asuransi Anda secara langsung tergantung pada penyedia asuransi Anda, tetapi mengurangi klaim secara individual dan sebagai suatu industri akan mengakibatkan tren penurunan tarif asuransi dan dengan demikian dapat menguntungkan Anda dan industri secara keseluruhan. Selain itu, program ini dapat membantu mengurangi risiko litigasi, atau kewajiban dalam tuntutan hukum potensial.

T: Apa risiko teratas untuk sebagian besar toko?

Setiap operasi adalah unik, tetapi data insiden dan kerugian dari seluruh industri menunjukkan bahwa sejumlah kecil bahaya secara konsisten menyebabkan masalah. Di bawah ini adalah bahaya yang paling umum terlihat dalam operasi dari semua jenis:

  • Kontaminasi karbon monoksida
  • Prosedur pengisian tangki yang berbahaya
  • Kurangnya rencana tindakan darurat yang tertulis dan dipraktekkan
  • Takut atau kurangnya pelatihan dalam mengidentifikasi pelanggan yang membahayakan diri mereka sendiri dan menolak layanan

T: Apa arti hasil tes kualitas udara, dan bisakah saya melakukan tes sendiri?

Uji kualitas udara menentukan tingkat kontaminan yang diuji dalam pasokan gas pada saat pengujian. Tes ini bukan jaminan kualitas udara untuk jangka waktu tertentu atau indikasi pasti bahwa kompresor berfungsi dengan baik. Melakukan pengujian ini tidak sulit, namun membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian. Untuk informasi lebih lanjut tentang kontaminan apa yang harus diuji dan bagaimana melakukannya, unduh Panduan HRA Edisi ke-2 Tahun 2019 .

T: EAP apa yang paling penting untuk bisnis saya, dan bagaimana saya harus menampilkannya di toko saya?

EAP bersifat unik untuk bisnis dan operasi tertentu. Hanya ada sedikit EAP yang berlaku untuk setiap operasi, dan rencana individu harus dibuat dengan mempertimbangkan bisnis tertentu. Setelah tingkat HIRA selesai, Anda akan memiliki gambaran yang lebih baik tentang risiko yang dihadapi operasi Anda dan akan lebih mampu membuat EAP yang dibutuhkan oleh operasi Anda. Untuk mengetahui contoh EAP atau alat bantu yang dapat digunakan untuk membuat EAP Anda, unduh Panduan HIRA Edisi ke-2 Tahun 2019 .

T: Apakah saya berhak menolak pelanggan, dan jika demikian, bagaimana cara melakukannya?

Hak untuk menolak adalah bagian penting dari semua bisnis dan sesuatu yang disalahartikan oleh banyak orang di industri selam atau tidak pernah diedukasi. Penting untuk dipahami bahwa selama Anda memiliki kebijakan tertulis dan tersedia untuk umum, Anda memiliki hak mutlak untuk menolak pelanggan karena masalah keselamatan atau kesehatan yang wajar. Selain itu, jika pelanggan menimbulkan bahaya keselamatan bagi diri mereka sendiri atau Anda atau staf Anda, Anda berkewajiban untuk menolak layanan dengan cara yang sopan dan tepat - demi keselamatan semua orang yang terlibat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hak menolak dan kebijakan penolakan publik, baca a href="https://world.dan.org/alert-diver/article/right-of-refusal/" target="_self"> Hak Menolak .

Synergy Solusi Group

  • Tentang Synergy Solusi
  • Konsultan Behavior Based Safety
  • Konsultan CSMS (Contractor Safety Management System)
  • Emergency Exercise
  • Konsultasi HAZID
  • Konsultasi Fire Risk Assessment
  • Konsultasi Hazard and Operability Study
  • Konsultan Process Safety Management
  • Safety Maturity Level
  • Konsultan Safety Leadership
  • Other Advance Safety Consulting
  • Audit Lingkungan (Environment Audit)
  • Environmental Laws and Regulations
  • Implementasi Proper KLH
  • Konsultasi ISO dan PROPER
  • Pengelolaan Sampah Industri
  • Pengelolaan Limbah B3
  • Pengelolaan Limbah
  • Social Mapping dan Pembentukan Program CSR
  • Pengelolaan Air Minum dan Air Bersih
  • Pengolahan Limbah Cair
  • Pelaporan Dokumen Lingkungan
  • Penyusunan Dokumen Lingkungan
  • Enviro and Energy Training
  • HSE Legal Compliance
  • Pengukuran Lingkungan Kerja
  • Safety Assesment
  • Vendor QHSE Audit
  • HSE Management Software
  • Occupational Health & Safety Design and Implementation Based on PP No. 50:2012
  • Sistem Manajemen K3 Pertambangan Berdasarkan Permen ESDM no 26 tahun 2018
  • Sistem Manajemen K3 Perkapalan Berdasarkan ISM Kode Tahun 2012
  • Sistem Manajemen Terintegrasi (Mutu, K3, dan Lingkungan) Berdasarkan ISO 9001, ISO 45001 dan ISO 14001
  • Sistem Manajemen Terintegrasi Berdasarkan PAS 99
  • Sistem Manajemen K3 berdasarkan ISO 45001
  • Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP)
  • Sertifikasi Kemnaker RI
  • Sertifikasi Sinergi Solusi
  • Sertifikasi Migas
  • Sertifikasi KEMENKES RI
  • Sertifikasi IRCA
  • Institute of Project Management for Oil and Gas Professional
  • Man Power Supply / Head Hunter and Recruitment for Oil and Gas Industries
  • Offshore Training
  • Oil and Gas Consulting
  • Sertifikasi BNSP Migas
  • Security Management
  • Crisis Management Plan Based on BS 11200; PAS 200:2011; etc
  • Disaster Management Plan
  • Manajemen Risiko Berdasarkan ISO 31000
  • Artikel QHSE
  • Synergy Solusi in Media
  • Pendaftaran Proxsis Expo & Conference + Sharing Session.
  • SHE Mastery Session
  • SHE Meet Up
  • Event Offline
  • Proxis Group
  • Hubungi Kami
  • Search for: Search Button
  • Specialists
  • Consultation
  • Quick start

October 26, 2020

Penilaian risiko dan metode yang dapat digunakannya.

risk assessment k3 adalah

K3 atau Kesehatan Keselamatan kerja merupakan hal penting yang harus diperhatikan pada setiap level pekerjaan. Salah satu cara untuk menjaga K3 di lingkungan pekerjaan kita adalah dengan mulai dari meminimalisir risiko kerja yang dapat dilakukan menggunakan berbagai metode. Penilaian risiko ini dapat kita lakukan mulai dari identifikasi risiko kerja sebelum menyiapkan langkah-langkah preventifnya.

Synergy Solusi   member of Proxsis Group sangat menjunjung tinggi upaya untuk meningkatkan penerapan K3 di lingkungan kerja. Melansir sejumlah kajian ilmiah dari beberapa sumber, berikut tahapan-tahapan identifikasi risiko kerja dan beberapa metode yang dapat digunakan oleh rekan-rekan untuk melakukan penilaian risiko.

Pertama yakni metode perbandingan, yaitu metode yang membandingkan suatu rancangan terhadap suatu standar atau desain, dalam bentuk seperti daftar periksa ( checklist ). Fungsinya sebagai acuan untuk menentukan potensi bahaya dalam suatu sistem. Daftar ini dikembangkan dari pengalaman atau standar analisis tertentu, seperti apa yang boleh dan apa yang tidak. Daftar periksa berguna saat proses perancangan untuk membantu ingatan dalam mengungkapkan bahaya yang terlupakan.

Kedua, metode fundamental, yaitu metode yang tersusun untuk memotivasi orang yang menerapkan pengetahuan dan pengalaman mereka dengan tujuan mengidentifikasi bahaya. Berikut yang termasuk dalam metode kelompok ini adalah:

risk assessment k3 adalah

  • Preliminary Hazard Analysis (PHA) atau analisis bahaya awal, merupakan suatu sistem atau metode yang biasanya digunakan untuk menjelaskan dengan teknik kualitatif untuk mengidentifikasi bahaya pada tahap awal dalam proses desain. Prinsip dari PHA, untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin akan berkembang menjadi kecelakaan. Ini dilakukan dengan menimbulkan situasi atau proses yang tidak direncanakan. Ini penting untuk melakukan identifikasi bahaya dari awal yang bertujuan untuk mengimplementasikan corrective action pada proses desain.
  • Hazard Operability Study (HAZOPS) , merupakan metode yang digunakan industri untuk mengidentifikasi bahaya pada tahap desain rekayasa. Tujuannya untuk menganalisis bagian sistem satu per satu dan menjelaskan bagaimana kondisi ideal untuk suatu sistem bisa Langkah awal dilakukan dengan mendapatkan tinjauan dari sistem berupa gambar teknis atau informasi lain dari sistem tersebut.
  • Risk Based Inspection (RBI ), yakni penilaian risiko dan manajemen proses yang terfokus pada kegagalan peralatan karena kerusakan material. Fokus RBI adalah penilaian risiko yang berkaitan dengan pengoperasian peralatan. RBI dapat memberikan masukan kepada manajemen untuk merencanakan jadwal inspeksi dan pemeliharaan pada peralatan termasuk penganggaran biayanya.
  • What-If merupakan metode identifikasi bahaya awal untuk meninjau desain dengan menanyakan serangkaian pertanyaan awal yaitu bagaimana-jika atau what-if. Analisis ini merupakan bagian dari cara checklist, yang kemungkinan merupakan metode identifikasi bahaya tertua.
  • Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) atau analisis pola kegagalan dan akibat, yaitu metode untuk mengidentifikasi bahaya yang melibatkan analisis modus kegagalan. Seperti apa penyebabnya dan bagaimana dampaknya, serta kritikalitas dari kegagalan. Tujuan dari FMEA adalah untuk mengidentifikasi kegagalan yang mempunyai dampak yang tidak diinginkan pada sistem operasi.
  • Fault Tree Analysis (FTA) dan Event Tree Analysis (ETA) merupakan diagram logika yang digunakan untuk mewakili masing-masing dampak dari suatu peristiwa dan penyebab dari suatu peristiwa. Diagram ini juga menyatakan ilustrasi bebas dari rangkaian potensi kegagalan peralatan atau kesalahan manusia yang dapat menimbulkan kerugian. FTA bersifat deduktif yang dilakukan dengan memunculkan akibat untuk mencari sebab. Sedangkan ETA bersifat induktif yang dilakukan dengan dengan menampilkan sebab (kejadian awal) untuk mencari akibat (kejadian akhir).
  • Qualitative Risk Assessment merupakan pendekatan nilai risiko terhadap suatu sistem dengan pemberian skor kualitatif, seperti iya atau tidak, lalu baik atau buruk terhadap faktor kemungkinan dan akibat kegagalan dari suatu kejadian (Wachyudi, 2010).
  • Semi-quantitative Risk Assessment merupakan pengembangan penilain risiko dengan menggunakan suatu pemodelan untuk kejadian tertentu. Tujuannya untuk mendapatkan rate event. Dengan pemodelan ini, akan menghasilkan akurasi data berdasarkan informasi awal yang diolah dengan mempertimbangkan parameter-parameter yang ada.
  • Quantitative Risk Assessment merupakan penilaian penuh dengan melakukan pemodelan pada semua kejadian, sehingga kemungkinan dampak dari suatu kegagalan dapat diketahui secara numerik. Dari sinilah akan didapati tingkat risiko yang cukup akurat.

Synergy Solusi member of Proxsis Group membantu perusahaan dalam meningkatkan kompetensi bagi para personel di bidang migas, diselenggarakan dengan berbagai metode pelatihan dan faislitas yang menunjang hingga mendapatkan pengukuhan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) .

Sumber : BATAN. (2012). Lampiran PerKa BATAN 020/KA/I/2012 Pedoman Penilaian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: BATAN.

Wachyudi, Y. (2010). Identifikasi Bahaya, Analisis, dan Pengendalian Risiko dalam Tahap Desain Proses Produksi Minyak & Gas di Kapal Floating Production Storage & Offloading (FPSO) untuk Projek Petronas Bukit Tua Tahun 2010 . Depok: Universitas Indonesia.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment.

Post comment

risk assessment k3 adalah

Recent articles

risk assessment k3 adalah

Tingkatkan Reputasi dan Pertumbuhan Bisnis, LX International Indonesia Berkomitmen Penuhi Regulasi K3 dan Lingkungan Secara Proaktif

9 Manfaat Penerapan Ilmu Kelistrikan dalam Instalasi Listrik Bangunan

9 Manfaat Penerapan Ilmu Kelistrikan dalam Instalasi Listrik Bangunan

8 Kecelakaan Umum Akibat Penanganan Aliran Listrik yang Buruk

8 Kecelakaan Umum Akibat Penanganan Aliran Listrik yang Buruk

7 Risiko Utama dalam Bidang Kelistrikan yang Harus Diwaspadai

7 Risiko Utama dalam Bidang Kelistrikan yang Harus Diwaspadai

10 Langkah Penting untuk Penanganan Aliran Listrik yang Aman dan Tepat

10 Langkah Penting untuk Penanganan Aliran Listrik yang Aman dan Tepat

6 Jenis Aliran Listrik yang Dapat Memicu Kebakaran dan Korsleting: Pahami Bahayanya dan Cara Mencegahnya

6 Jenis Aliran Listrik yang Dapat Memicu Kebakaran dan Korsleting: Pahami Bahayanya dan Cara Mencegahnya

Universitas Indonesia Logo

ANALISA MANAJEMEN RISIKO K3 DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW

  • Department of Occupational Health and Safety

Research output : Contribution to journal › Article

  • Indonesian Manufacturing Industry
  • Risk Management

Access to Document

  • Analisa Manajemen Risiko Final published version, 284 KB

T1 - ANALISA MANAJEMEN RISIKO K3 DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW

AU - Irfan, Muhammad

AU - Susilowati, Indri Hapsari

PY - 2021/4

Y1 - 2021/4

N2 - The manufacturing industry is an industry that processes raw materials into semi-finished and finished products. In every production process and work activity in the manufacturing industry, some risks potentially lead to work accidents. In Indonesia, the manufacturing industries have high contributions to work accidents, along with construction industries, amounting to 63.6% in 2020. Work accidents can occur due to the poor management of Occupational Safety and Health (OSH) risk management in companies. This study aims to provide an overview and analyze hazard identification, risk assessment, and risk control in Indonesia’s manufacturing industry..This study is a literature review of published journals related to OSH risk management in Indonesia’s manufacturing sector from 2015-2020 obtained from google scholar. The keywords used were “hazard identification”, “risk assessment”, and “the manufacturing industry”. After the selection process was carried out, 26 journals were included in this study.From the literature review, the most identified hazards are physical hazards such as being hit by a press machine, being exposed to a grinding machine, and being pinched by a production machine. In the risk assessment, the level of risk that frequently appears is the medium & high levels. Risk control widely used is administrative control, such as setting up standard operating procedures, providing guidance in operations, etc. The most identified hazards in The manufacturing industry in Indonesia are physical hazards. The risk levels that frequently appeared were medium & high levels. And risk control that is widely used is administrative control.

AB - The manufacturing industry is an industry that processes raw materials into semi-finished and finished products. In every production process and work activity in the manufacturing industry, some risks potentially lead to work accidents. In Indonesia, the manufacturing industries have high contributions to work accidents, along with construction industries, amounting to 63.6% in 2020. Work accidents can occur due to the poor management of Occupational Safety and Health (OSH) risk management in companies. This study aims to provide an overview and analyze hazard identification, risk assessment, and risk control in Indonesia’s manufacturing industry..This study is a literature review of published journals related to OSH risk management in Indonesia’s manufacturing sector from 2015-2020 obtained from google scholar. The keywords used were “hazard identification”, “risk assessment”, and “the manufacturing industry”. After the selection process was carried out, 26 journals were included in this study.From the literature review, the most identified hazards are physical hazards such as being hit by a press machine, being exposed to a grinding machine, and being pinched by a production machine. In the risk assessment, the level of risk that frequently appears is the medium & high levels. Risk control widely used is administrative control, such as setting up standard operating procedures, providing guidance in operations, etc. The most identified hazards in The manufacturing industry in Indonesia are physical hazards. The risk levels that frequently appeared were medium & high levels. And risk control that is widely used is administrative control.

KW - Indonesian Manufacturing Industry

KW - Risk Management

M3 - Article

SN - 2623-1581

JO - PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat

JF - PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat

risk assessment k3 adalah

Penilaian Risiko: Matrik, Contoh, dan Tahapannya dalam Bisnis

Penilaian Risiko

Penilaian risiko adalah proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan timbulnya risiko pada operasional perushaaan.

Sebagian besar bisnis memiliki potensi risiko yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan para karyawannya. Jadi, penting bagi Anda untuk menganalisis apa saja risiko yang bisa terjadi untuk menjaga keselamatan karyawan ketika bekerja.

Jika Anda merupakan pemilik atau manajer bisnis, penting bagi Anda untuk memahami cara melakukan penilaian risiko agar karyawan. Pada artikel ini, kita membahas apa itu penilaian risiko bisnis, pentingnya, dan bagaimana cara melakukannya.

Apa itu Penilaian Risiko Bisnis?

Pengertian penilaian risiko

Penilaian risiko adalah proses mengidentifikasi risiko keamanan dan keselamatan dalam bisnis, mengevaluasi siapa yang mungkin terkena dampak risiko ini, seberapa bahaya risiko tersebut, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengendalikan risiko. 

Di dunia industri, penilaian risiko juga sering disebut dengan istilah pengendalian risiko K3 yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang harus diawasi dengan optimal supaya keselamatan fisik dan mental terjamin ketima mereka melakukan tugasnya di tempat kerja.

Pemerintah sendiri mewajibkan agar setiap bisnis, melakukan penilaian risiko setidaknya setahun sekali. Usaha perseorangan juga dapat mempertimbangkan untuk melakukan penilaian risiko untuk kesehatan dan keselamatan mereka sendiri.

Anda bisa melakukan penilaian risiko sendiri, atau dengan menyewa penilai risiko profesional untuk menyusun laporan, terutama jika bisnis Anda berada di bidang yang sangat berbahaya seperti konstruksi atau listrik. 

Diharapkan dengan adanya pengendalian risiko, semua komponen dalam perusahaan mengetahui bagaimana cara mengendalikan operasional bisnis karena sudah mengerti apa yang harus dilakukan jika ditemukan risiko yang berbahaya.

Namun, pengendalian risiko ini tidak lantas membuat semua risiko yang ada di tempat kerja hilang. Dan tidak juga bertujuan untuk menghapus operasional yang sifatnya berbahaya seperti yang sering kita jumpai pada bidang konstruksi dan pertambangan.

Pengendalian risiko ini lebih menekankan pada bagaimana cara bekerja yang aman meskipun berdampingan dengan risiko.

Baca juga: Konsolidasi Utang: Penyebab, Pro Kontra, dan Cara Mendapatkannya

Pentingnya Penilaian Risiko

Penilaian risiko sangat penting karena beberapa alasan. Tidak hanya demi persyaratan hukum, tetapi juga secara signifikan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan atau cedera di tempat kerja. 

Sebagai pemangku bisnis, tugas Anda adalah memastikan bahwa karyawan selalau aman di tempat kerja. Melakukan penilaian risiko secara teratur dapat membantu memastikan keamanan karyawan. 

Jika Anda bergerak pada bidang industri yang berisiko tinggi, Anda dapat melakukan penilaian risiko secara lebih rutin, seperti setiap kali Anda memulai proyek baru, untuk memastikan bahwa karyawan memiliki semua perlengkapan yang mereka perlukan agar tetap aman di tempat kerja.

Pengendalian risiko tidak hanya bertujuan melindungi karyawan, tetapi juga dapat melindungi bisnis dari kerugian finansial. 

Jika seorang karyawan terluka saat mereka bekerja, mereka bisa saja menuntut ganti rugi perusahaan Anda. 

Selain itu, jika pemerintah mengetahui bahwa Anda tidak melakukan penilaian risiko secara teratur, perusahaan Anda akan dikenai sanksi hukum seperti denda atau sanksi lain yang dapat merugikan bisnis Anda secara serius. Oleh karena itu, pengendalian risiko berguna untuk melindungi karyawan maupun bisnis Anda.

Banner 3 kledo

Penetapan Kriteria Penilaian Risiko

Sebelum membahas lebih jauh bagaimana cara melakukan penilaian risiko, terlebih dulu kita pahami penetapan kriteria risiko.

Kriteria penilaian risiko adalah keputusan mengenai tingkat risiko yang dapat diterima, ditoleransi, dan mana yang harus menjadi prioritas.

Dilansir dari Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia , berikut pembagian skala pengendalian risiko:

Skala dampak risiko

Kriteria penilaian terhadap tingkat konsekuensi atau dampak risiko menggunakan skala lima dan dibuat deskripsinya untuk menjamin konsistensi dalam analisis risiko.

Jenjang dan deskripsi dampak diilustrasikan sebagai berikut:

Skala kemungkinan terjadinya risiko

Kriteria penialaian terhadap tingkat atau kemungkinan terjadinya (probabilitas) risiko harus dipilih (skala empat) dan dibuatkan deskripsinya untuk menentukan konsistensi penilaia risiko.

Skala dan deskripsi kemungkina terjadinya risiko adalah sebagai berikut:

Matriks risiko/skala risiko

Matriks risiko atau skala risiko berfungsi sebagao dasar/template untuk penyusunan peta risiko sekaligus sebagai sarana untuk membuat kesepakatan atas are risiko yang dapat diterima ( acceptable ) dan area yang tidak dapat diterima ( unaccetable ).

Matriks risiko dibuat sesuai dengan skala dampak dan skala konsekuensi yang diukur sebelumnya. Matriks yang dibuat berukuran 4 x4.

Penyusunan skala risiko dalam matrik tersebut akan menentukan sifat tindakan dan strategi penanganan risiko.

Dalam skala empat, matriks peta risiko terdiri dari 16 bidang yang menjadi dasar penetapa risiko yangdapat diterima dan tidak dapat diterima.

risk assessment k3 adalah

Baca juga: Mission Statement: Fungsi, Karakteristik, dan Tips Membuatnya

Bagaimana Melakukan Penilaian Risiko?

Langkah-langkah K3

Proses melakukan penilaian risiko memerlukan pemahaman dan evaluasi semua risiko K3. 

Setelah Anda menyelesaikan penilaian risiko, Anda dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko tersebut dan meningkatkan keselamatan karyawan Anda. 

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk melakukan penilaian risiko:

1. Identifikasi setiap bahaya

Langkah pertama penilaian risiko adalah mengidentifikasi semua risiko. Risiko ini adalah bahaya yang mungkin dihadapi karyawan Anda saat bekerja. 

Cara mudah untuk mengidentifikasi bahaya ini adalah dengan mengecek area kerja dan mencatat setiap bahaya yang Anda lihat. Misalnya potensi bahaya dari struktur bangunan, atau bisa jadi bahaya yang Anda catat pada proyek bangunan. 

Penting untuk dicatat bahwa beberapa bisnis bekerja dengan zat yang sangat berbahaya. Dalam hal ini, Anda bisa mempertimbangkan untuk mempekerjakan penilai risiko profesional untuk melakukan penilaian. Beberapa contoh bahaya adalah:

  • Kabel yang bisa membuat karyawan tersandung
  • Lantai yang licin
  • Alat berat yang dapat menyebabkan kerusakan serius jika digunakan secara tidak benar
  • Pekerjaan dari ketinggian

2. Cari tahu siapa yang terdampak risiko

Setelah Anda memahami potensi risiko yang dihadapi karyawan saat mereka sedang bekerja, Anda kemudian dapat meluangkan waktu untuk mengevaluasi siapa yang terkena dampak risiko ini dan bagaimana dampaknya terhadap mereka. 

Risiko ini bisa saja akan dialami para pekerja dan juga bisa orang luar yang ada di sekitar area kerja. Misalnya, jika Anda memiliki risiko lantai licin di area resepsionis, pastikan Anda menyertakan pelanggan sebagai orang yang mungkin berisiko.

Untuk memahami siapa yang mungkin berisiko, Anda daoat berbicara dengan setiap karyawan untuk memahami risiko apa yang mereka ketahui, karena mereka mungkin tahu risiko yang belum Anda pertimbangkan sebelumnya. 

Jika Anda memiliki perusahaan besar, pertimbangkan untuk mengelompokkan karyawan Anda ke dalam beberapa bagian, seperti orang yang bekerja di kantor dan orang yang bekerja di gudang. 

Anda juga dapat mempertimbangkan efek risiko dari waktu ke waktu. Misalnya, jika beberapa karyawan Anda bekerja dengan mesin yang keras setiap hari, mereka mungkin berisiko mengalami masalah pendengaran di kemudian hari.

Baca juga: Cara Melakukan Analisis Persaingan dalam Bisnis dan Contohnya

3. Evaluasi tingkat risiko

Setelah Anda memahami semua risiko bisnis Anda dan siapa yang mungkin terpengaruh, Anda kemudian dapat mencoba menentukan tingkat risiko atau seberapa besar kemungkinan risiko ini terjadi. 

Misalnya, risiko cedera saat mengoperasikan alat berat mungkin lebih besar daripada risiko kebakaran yang terjadi di dalam gedung. 

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menentukan risiko yang menjadi ancaman terbesar bagi karyawan Anda. Setelah Anda mengetahui risiko utama, Anda dapat menjadikannya sebagai prioritas utama untuk mengurangi atau menghilangkan risiko ini.

Misalnya, jika lantai Anda licin setelah mengepel, risiko terpelest bisa dicegah dengan menggunakan rambu untuk mencegah akses ke area ini saat basah. 

Untuk risiko yang melibatkan alat berat, salah satu cara untuk mengurangi risiko adalah memastikan bahwa semua karyawan Anda benar-benar terlatih dalam cara menggunakan mesin dengan benar, yang dapat mengurangi risiko cedera.

4. Evaluasi penilaian risiko

Setelah Anda mengevaluasi risiko dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi setiap risiko dalam bisnis Anda, penting bagi Anda untuk meninjau dan memperbarui penilaian risiko secara rutin untuk memastikan bahwa Anda memantau semua risiko. 

Evaluasi penilaian risiko setidaknya sebulan sekali, memastikan bahwa Anda mematuhi semua rekomendasi dan perubahan cara bekerja.

Jika ada perubahan di tempat kerja, seperti pembukaan gedung kantor baru atau pemasangan peralatan baru, lakukan penilaian risiko baru untuk setiap perubahan. 

Ini memberi Anda kesempatan untuk mendaftar semua informasi tentang bagian baru bisnis dan segala risiko yang terkait dengannya. 

Meninjau tempat kerja Anda secara teratur adalah salah satu cara termudah untuk memastikan bahwa semua karyawan aman saat bekerja.

Baca juga: Brand Management: Definisi, Prinsip, Strategi, dan Manfaatnya

Contoh Penilaian Risiko

Proses penilaian risiko dilakukan sesuai dengan jenis dan kebutuhan industri tesebut. Berikut beberapa contoh pengendalian risiko:

Risiko kesehatan dan keselamatan

Risiko kesehatan dan keselamatan adalah jenis risiko yang digunakan oleh manajer keselamatan mengidentifikasi, menilai, dan mengelola potensi bahaya yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan individu di lingkungan kerja.

Berbagai jenis bahaya yang ada dapat terdiri dari bahaya biologi, kimia, lingkungan, energi, dan sebagainya.

Risiko tempat kerja

Pengendalilan risiko yang dilakukan manajer untuk mengurangi atau menghilangkan risiko di tempat kerja. Selain itu, pengendalian ini juga bertujuan untuk meningkatkan moral dan produktivitas karyawan.

Risiko konstruksi

Penilaian risiko konstruksi adalah proses untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi risiko yang terkait dengan proyek konstruksi, baik terkait kesehatan dan keselamatan pekerja maupun kelancaran proyek.

Dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor seperti peralatan berat yang digunakan, lokasi proyek, cuaca, dan koordinasi antar tim.

Baca juga: Pengendalian Anggaran: Tahapan, Tujuan, dan Tekniknya

Templat Sederhana Penilaian Risiko

Jika Anda ingin melakukan penilaian risiko sendiri, berikut adalah template sederhana penilaian risiko, termasuk beberapa pertanyaan yang mungkin ingin Anda pertimbangkan untuk setiap risiko:

  • Nama perusahaan: [masukkan di sini nama perusahaan]
  • Tanggal penilaian: [masukkan tanggal]
  • Nama penilai: [masukkan nama lengkap penilai]
  • Tanggal evaluasi risiko berikutnya: [masukkan tanggal]
  • Apa bahayanya? [Buat daftar semua bahaya]
  • Siapa yang terkena dampak risiko ini? [Sertakan semua orang yang mungkin terkena dampak]
  • Bagaimana risiko ini berdampak pada mereka? [Detail bagaimana bahaya akan berdampak pada mereka]
  • Apa yang Anda lakukan saat ini untuk mengendalikan risiko ini? [Detail tindakan apa pun yang diambil untuk mengendalikan risiko]
  • Tindakan lebih lanjut apa yang dapat dilakukan untuk mengendalikan risiko ini dengan lebih baik? [Daftar kemungkinan solusi lain]
  • Siapa yang bertanggung jawab atas tindakan lebih lanjut? [Nama orang yang bertanggung jawab atas tindakan]

Baca juga: Purchasing Management: Pengertian, Manfaat, Tahapan, dan Tipsnya

Penilaian risiko menjadi kewajiban bisnis guna memastikan kesehatan, keselamatan, dan keamanan para pekerja dalam menjalankan tugasnya di tempat kerja. Lebih dari itu, evaluasi ini juga bermanfaat supaya bisnis dapat terhindar dari kerugian yang besar.

Selain penanganan risiko kerja, para pelaku bisnis harus bisa mengelola keuangan dengan tepat dan akurat. Guna memudahkan proses tersebut, Anda bisa menggunakan software akuntansi berbasis cloud seperti Kledo.

Dengan Kledo, Anda bisa melakukan pembukuan dan memperoleh laporan keuangan yang akurat dan tepat. Perlu diketahui, bahwa laporan keuangan sangat penting bagi bisnis karena menjadi pedoman dalam pengambilan kebijakan bisnis di masa depan.

Nah, tunggu apalagi? Mulai dari 140 ribu saja, Anda sudah bisa menggunakan fitur terlengkap dari Kledo.

Mau coba gratis? Tentu bisa, dong! Yuk, gunakan Kledo gratis selama 14 hari bahkan selamanya melalui tautan ini.

  • Latest Posts

Annisa Herawati

  • Aturan PSAK 10 Mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing - 13 Mei 2024
  • 7 Contoh Desain Menu Makanan dan Cara Membuatnya - 13 Mei 2024
  • 15 Produk Ramah Lingkungan yang Dapat Dijadikan Peluang Bisnis - 13 Mei 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.

Please enter an answer in digits: 17 + seventeen =

risk assessment k3 adalah

Pengenalan Metode HIRARC untuk Manajemen Risiko di Tempat Kerja

Pengenalan Metode HIRARC untuk Manajemen Risiko di Tempat Kerja

Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) adalah salah satu metode yang digunakan dalam manajemen risiko di tempat kerja. Dan metode ini digunakan untuk mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan mengendalikan risiko di tempat kerja. Metode HIRARC sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

Langkah-langkah Penerapan Metode HIRARC

1. hazard identification (identifikasi bahaya).

Langkah pertama dalam metode HIRARC adalah mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. Bahaya dapat berasal dari berbagai sumber seperti mesin, bahan kimia, lingkungan kerja, dan perilaku manusia. Identifikasi bahaya harus dilakukan secara sistematis dan terperinci untuk memastikan bahwa semua bahaya telah diidentifikasi.

2. Risk Assessment (Penilaian Risiko)

Setelah bahaya diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi risiko yang terkait dengan bahaya tersebut. Risiko dapat diukur berdasarkan kemungkinan terjadinya dan dampaknya terhadap karyawan dan perusahaan. Penilaian risiko harus dilakukan secara objektif dan terperinci untuk memastikan bahwa risiko yang diidentifikasi dapat dikendalikan.

3. Risk Control (Pengendalian Risiko)

Setelah risiko dievaluasi, langkah terakhir adalah mengendalikan risiko. Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengurangi bahaya, mengurangi risiko, atau menghilangkan resiko sepenuhnya. Pengendalian risiko harus dilakukan secara sistematis dan terperinci untuk memastikan bahwa risiko yang diidentifikasi dapat dikendalikan dengan efektif.

Baca juga Pengawas K3 Bekerja di Ketinggian BNSP

Manfaat Metode HIRARC

Metode HIRARC memiliki banyak manfaat bagi perusahaan dan karyawan. Beberapa manfaatnya antara lain:

1. Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan

Manfaat utama dari metode HIRARC adalah meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Dengan mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan mengendalikan risiko, perusahaan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan dan cedera di tempat kerja. Hal ini akan meningkatkan kesejahteraan karyawan dan mengurangi biaya yang terkait dengan cedera dan kecelakaan kerja.

2. Mengurangi Resiko Kecelakaan dan Cedera di Tempat Kerja

Metode HIRARC juga dapat membantu perusahaan mengurangi risiko kecelakaan dan cedera di tempat kerja. Dengan mengidentifikasi bahaya dan mengevaluasi risiko, perusahaan dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut. Misalnya, perusahaan dapat memperbaiki mesin yang rusak atau memberikan pelatihan keselamatan kepada karyawan untuk mengurangi resiko kecelakaan dan cedera di tempat kerja.

Baca juga :  Mengenal dan Implementasi Sistem Manajemen K3 pada Berbagai Jenis Industri

3. Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Kerja

Metode HIRARC juga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Dengan mengendalikan risiko, perusahaan dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki mesin yang rusak atau mengganti karyawan yang cedera. Hal ini akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja serta mengurangi biaya yang terkait dengan kecelakaan dan cedera kerja.

4. Meningkatkan Citra Perusahaan di Mata Karyawan dan Masyarakat

Perusahaan yang menerapkan metode HIRARC dengan baik akan memiliki citra yang baik di mata karyawan dan masyarakat. Hal ini karena perusahaan menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keselamatan dan kesehatan kerja karyawan serta lingkungan kerja yang aman. Karyawan dan masyarakat akan merasa lebih nyaman dan aman bekerja di perusahaan yang memiliki lingkungan kerja yang aman dan sehat.

5. Meningkatkan Kepatuhan Perusahaan terhadap Peraturan dan Standar Keselamatan Kerja

Metode HIRARC juga dapat membantu perusahaan mematuhi peraturan dan standar keselamatan kerja yang berlaku. Dengan mengidentifikasi bahaya dan mengevaluasi risiko, perusahaan dapat memastikan bahwa kegiatan operasionalnya sesuai dengan peraturan dan standar keselamatan kerja yang berlaku. Hal ini akan mengurangi risiko pelanggaran peraturan dan standar keselamatan kerja serta mengurangi risiko sanksi dan denda yang terkait dengan pelanggaran tersebut.

Baca juga : Contractor Safety Management System (CSMS) BNSP

Metode HIRARC adalah salah satu metode yang digunakan dalam manajemen risiko di tempat kerja. Metode ini sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Dengan mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan mengendalikan risiko, perusahaan dapat mengurangi risiko kecelakaan dan cedera di tempat kerja serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, perusahaan harus menerapkan metode HIRARC secara sistematis dan terperinci untuk memastikan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

Klik gambar dibawah ini mengikuti Training Hazard Identification Risk Assessment & Risk Control (HIRARC) :

TRAINING HIRARC

Anda Mungkin Juga Suka:

risk assessment k3 adalah

TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Kecelakaan kerja jatuh dari ketinggian di indonesia.

risk assessment k3 adalah

18 Prinsip Kerja Aman di Kelistrikan

Tips cara melakukan cpr bagi orang awam, leave a reply cancel reply.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed .

Artikel Terkait

risk assessment k3 adalah

Prosedur Penanganan Kebakaran di Gedung Perkantoran

risk assessment k3 adalah

Pengetahuan Umum Tentang Ruang Terbatas (Confined Space)

Cara Merawat Lift Penumpang

Cara Merawat Lift Penumpang

risk assessment k3 adalah

Electrical Mechanical dan Era Industri 4.0: Transformasi Digital dalam Lingkungan Kerja

risk assessment k3 adalah

Mengenal Sertifikasi Kemnaker: Kredibilitas, Keahlian, dan Peluang Karir

10 Jenis Limbah B3 yang Harus Dikelola dengan Hati-hati

10 Jenis Limbah B3 yang Harus Dikelola dengan Hati-hati

Cermati Protect

Cermati Protect

Solusi Cerdas untuk Kebutuhan Asuransi Anda

two man holding white paper

Manajemen Risiko K3: Pengertian dan Penerapannya

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Tujuannya untuk mengurangi terjadinya probabilitas kecelakaan kerja yang tidak hanya merugikan karyawan, tapi juga perusahaan. Sebab, hal ini dapat menurunkan produktivitas kerja yang memengaruhi jumlah barang yang diproduksi. 

Penerapan K3 tertuang dalam manajemen risiko di setiap perusahaan. Lantas, bagaimana proses manajemen risiko K3 dan penerapannya? Simak informasi lengkapnya dalam penjelasan berikut ini. 

Pengertian Manajemen Risiko 

risk assessment k3 adalah

Risiko adalah segala sesuatu yang berpeluang menimbulkan sakit, kerusakan, atau bahkan kematian akibat terjadinya bahaya. Sedangkan manajemen risiko K3 adalah suatu upaya sistematis, terencana, terstruktur, dan komprehensif yang dilakukan oleh perusahaan. Tujuan manajemen risiko adalah untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan di tempat kerja.

Manajemen risiko K3 tidak hanya dibutuhkan di perusahaan manufaktur, tapi juga di perusahaan lain, seperti keuangan. Manajemen risiko keuangan dibutuhkan dalam proses identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan risiko untuk menghindari probabilitas terjadinya fraud dalam kegiatan operasional bisnis. 

Agar kegiatan operasional berjalan seperti apa yang diharapkan, perusahaan juga perlu menerapkan manajemen risiko operasional dalam kegiatan sehari-hari. Manajemen risiko operasional adalah suatu upaya untuk mengatasi kendala dalam bisnis, sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian.

Langkah-langkah Mengelola Risiko

1. mengidentifikasi adanya bahaya.

Terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan untuk mengidentifikasi suatu bahaya, di antaranya:

  • Mengetahui kondisi atau kejadian yang dapat menimbulkan suatu bahaya
  • Mengetahui jenis kecelakaan yang mungkin terjadi

Sedangkan aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi suatu bahaya, di antaranya:

  • Melakukan konsultasi dengan pekerja dan tim K3
  • Mempertimbangkan keputusan yang akan diambil
  • Melakukan pengujian, kegiatan audit, dan survei terhadap karyawan
  • Menganalisis rekaman data
  • Mengumpulkan informasi dari konsumen, supplier, dan pihak-pihak yang terlibat untuk proses evaluasi

2. Menilai Risiko dan Seleksi Prioritas

Suatu proses untuk menentukan jenis pengendalian terhadap tingkat risiko yang mungkin terjadi dinamakan proses menilai risiko dan seleksi prioritas. Poin ini bertujuan untuk menentukan tindak lanjut karena tidak semua bahaya dapat langsung ditindaklanjuti. 

Beberapa hal yang harus dilakukan untuk menilai risiko dan melakukan seleksi prioritas, antara lain.

Menentukan Peluang atau Insiden

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu peluang atau insiden, antara lain:

  • Frekuensi terjadinya suatu insiden
  • Jumlah orang yang terlibat
  • Keterampilan dan pengalaman orang yang terlibat
  • Karakteristik orang yang terlibat
  • Durasi suatu insiden
  • Pengaruh posisi terhadap suatu bahaya
  • Tingkat kerusakan yang ditimbulkan
  • Jumlah material 
  • Kondisi lingkungan di sekitar
  • Kondisi peralatan yang digunakan
  • Tingkat efisiensi atas pengendalian

Menentukan Konsekuensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu frekuensi, antara lain:

  • Potensi atas peristiwa yang saling berhubungan
  • Konsentrasi substansi
  • Volume dari material
  • Ketinggian suatu benda
  • Kecepatan suatu benda dan pergerakan bagian-bagiannya
  • Jarak pekerja dari bahaya 
  • Berat badan pekerja

Menetapkan Pengendalian

Langkah yang satu ini bertujuan untuk membuat perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian atas kegiatan yang dapat menimbulkan suatu risiko. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengendalikan risiko, antara lain:

  • Pengendalian teknisi atau rekayasa, berupa kegiatan eliminasi, substitusi, isolasi, ventilasi, sanitasi, dan kebersihan
  • Pendidikan dan pelatihan
  • Pembangunan kesadaran agar lebih termotivasi
  • Evaluasi melalui audit internal
  • Adanya penegakan hukum

Penerapan Langkah Pengendalian

Agar pengendalian dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Mengembangkan prosedur kerja, yang bertujuan sebagai alat untuk mengatur dan mengawasi atas bahaya yang mungkin terjadi
  • Komunikasi, bertujuan agar seluruh pekerja mendapatkan informasi yang lengkap mengenai tata cara menggunakan alat pengendali bahaya dan alasan menggunakan alat tersebut
  • Mengadakan pelatihan, bertujuan agar pekerja lebih mengenal jenis-jenis alat pengendali yang digunakan
  • Pengawasan, bertujuan untuk memastikan bahwa alat pengendali digunakan dengan benar dan tepat sesuai dengan kegunaannya masing-masing

Pemantauan dan Tinjauan

Yang terakhir adalah pemantauan dan tinjauan. Langkah ini dilakukan dalam interval waktu yang sudah ditetapkan oleh organisasi. Beberapa hal yang akan memengaruhi proses pemantauan dan tinjauan, antara lain:

  • Sifat dari bahaya itu sendiri
  • Magnitude atau tinggi rendahnya suatu risiko
  • Perubahan standar operasional
  • Perubahan metode kerja
  • Perubahan peraturan dan susunan organisa

Baca Juga: Pengertian Kecelakaan Kerja dan Cara Meminimalisirnya

Proses Penerapan Manajemen Risiko K3

risk assessment k3 adalah

Manajemen risiko K3 adalah suatu proses yang dibuat oleh pimpinan suatu organisasi guna menghindari bahaya atau kecelakaan yang dapat terjadi saat kegiatan operasional berlangsung. Manajemen risiko memiliki sejumlah manfaat, antara lain:

  • Menjamin kelangsungan usaha dengan cara mengurangi risiko yang dapat terjadi dalam suatu kegiatan
  • Menekan biaya atas kejadian yang tidak diinginkan
  • Menciptakan rasa aman di kalangan internal organisasi, begitu pula dengan para pemegang saham
  • Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai tingginya risiko operasi bagi setiap organisasi atau perusahaan
  • Untuk memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku

Berdasarkan Manajemen Risiko AS/NZS 4360 tahun 2004, ada beberapa proses yang harus dilakukan agar manajemen risiko K3 berjalan dengan baik dan benar. Adapun proses manajemen risiko adalah sebagai berikut.

1. Menentukan Konteks

Penentuan konteks dilakukan dengan cara melihat visi dan misi dari suatu organisasi dan ruang lingkupnya, mulai dari awal hingga akhir. Hal ini dilakukan karena konteks risiko yang terdapat dalam setiap perusahaan berbeda-beda. Jadi, setiap perusahaan harus menyesuaikan dengan keadaan yang terjadi.

Setelah itu dilakukan penetapan kriteria risiko untuk mengetahui mana yang dapat ditanggulangi oleh perusahaan, dan mana yang tidak dapat ditanggulangi. Kriteria risiko dapat ditentukan dengan melihat kombinasi antara tingkat kemungkinan risiko dan seberapa besar dampak risiko tersebut bagi suatu organisasi.

2. Mengidentifikasi Suatu Risiko

Proses identifikasi termasuk dalam proses manajemen risiko. Identifikasi ini ditujukan untuk mengetahui semua potensi bahaya yang dapat terjadi saat berlangsungnya kegiatan atau proses kerja tertentu. 

Terdapat sejumlah manfaat saat mengidentifikasi risiko, di antaranya:

  • Mengurangi peluang terjadinya kecelakaan
  • Mengetahui faktor terjadinya kecelakaan
  • Memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai bahaya dari suatu risiko
  • Sebagai dasar untuk mengambil keputusan terkait strategi pencegahan dan penanganan yang tepat dari setiap risiko yang terjadi
  • Memberikan informasi yang terdokumentasi mengenai sumber bahaya dalam suatu organisasi

3. Menilai Risiko

Setelah diidentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah menilai risiko. Proses ini dilakukan dengan cara menganalisa dan mengevaluasi risiko.

Menganalisis Risiko

Analisa dibutuhkan untuk mengetahui tingkat keparahan suatu risiko. Beberapa cara menganalisa risiko yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Melakukan analisa terhadap setiap langkah kerja yang berhasil diidentifikasi
  • Mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu insiden dalam setiap tahapan kerja
  • Mengukur tingkat keparahan yang mungkin terjadi
  • Melakukan perhitungan untuk mengetahui nilai risikonya
  • Membuat matriks risiko
  • Menentukan tingkat risiko dalam setiap tahapan kerja, apakah termasuk risiko yang jarang atau sering terjadi

Mengevaluasi Risiko

Setelah dianalisa, maka risiko yang sudah diketahui perlu dievaluasi. Beberapa cara mengevaluasi risiko yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Membuat kriteria risiko yang dapat diterima, tidak dapat diterima, dan dapat ditolerir
  • Mengevaluasi tingkatan risiko
  • Untuk risiko yang tidak dapat diterima, dibutuhkan tindakan pengendalian risiko yang tepat guna meminimalisir risiko

Mengendalikan Risiko

Proses mengendalikan risiko dibutuhkan untuk mengetahui seluruh manajemen risiko yang dibutuhkan oleh suatu organisasi. Caranya berupa membuat forum diskusi, membagikan link jurnal, dan membuat kuis.

Melakukan Komunikasi dan Konsultas

Dampak dari suatu risiko dan cara mengendalikannya perlu dikomunikasikan dalam organisasi. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan tentang penanggulangan risiko yang akan diterapkan dalam organisasi. Diperlukan juga yang namanya konsultasi agar proses pembuatan keputusan atas pengendalian risiko tidak merugikan pihak mana pun.

Memantau dan Melakukan Peninjauan

Setelah lima proses di atas dilakukan, maka proses terakhir adalah memantau dan melakukan peninjauan atas pengendalian risiko yang berhasil diterapkan. Jika ternyata pengendalian tersebut kurang tepat, maka organisasi dapat mengubah beberapa poin pengendalian. Sehingga, pengendalian ini memberikan manfaat yang maksimal bagi keberlangsungan kegiatan dalam organisasi. 

Baca Juga: Tips Efektif Mengelola Kehadiran Karyawan

Pengendalian Risiko Dibutuhkan dalam Semua Aspek Bisnis

Dalam suatu organisasi, perusahaan, atau bisnis, manajemen risiko memegang andil penting. Dengan adanya manajemen risiko yang baik, maka segala hal yang tidak diinginkan dapat diminimalisir. Dengan demikian, kegiatan operasional organisasi dapat berjalan lancar. 

Selain penetapan manajemen risiko yang apik, penyediaan asuransi kesehatan karyawan juga diperlukan untuk melindungi karyawan yang juga meruapkan salah satu aset bisnis berharga untuk perusahaan. Dapatkan penawaran asuransi kesehatan karyawan terbaik dari Cermati Protect dengan mengisi formulir dibawah ini!

  • Pingbalik: Jangan Kaget, Ini Daftar Gaji Pekerja Tambang di Indonesia – Redemption Portal
  • Pingbalik: Seputar K3 Konstruksi, Mulai dari Pengertian Hingga Penerapannya – Cermati Protect
  • Pingbalik: Hazard: Defenisi, Jenis, dan Contohnya dalam Manajemen Risiko – Cermati Protect

Comments are closed.

Apa yang dimaksud dengan Penilaian Risiko atau Risk Assessment? https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-penilaian-risiko-atau-risk-assessment/15018

Penilaian Risiko

Penilaian Risiko atau Risk Assessment adalah penilaian suatu risiko dgn cara membandingkannya terhadap tingkat atau kriteria risiko yang telah ditetapkan.

Apa yang dimaksud dengan Penilaian Risiko atau Risk Assessment ?

Risk Assessment atau dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai penilaian risiko merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan untuk memperkirakan suatu risiko dari situasi yang bisa didefinisikan dengan jelas ataupun potensi dari suatu ancaman atau bahaya baik secara kuantitatif atau kualitatif. Penilaian risiko juga bisa diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan keamanan dengan suatu struktur tertentu, pembuatan suatu rekomendasi khusus, dan rekomendasi pengambilan keputusan dalam suatu proyek dengan menggunakan analisis risiko, perkiraan risiko, dan informasi lain yang memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan. [1] 135

Tinjauan Penilaian Risiko

Penilaian risiko berbeda dengan analisis risiko atau dengan manajemen risiko, akan tetapi antara ketiga hal tersebut terdapat hubungan yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Analisis risiko sendiri kegiatan menganalisa untuk menentukan besar kecilnya suatu risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besarnya akibat yang ditimbulkan.[Andani EN, 2015][[2]]

Setelah menganalisis risiko yang ada dan sebelumnya mengidentifikasi terlebih dahulu risiko sepert apa yang akan terjadi dan bagaimana suatu bisa terjadi maka tahapan selanjutnya memberikan penilaian tentang besarnya tingkatan terkait risiko tersebut. Hal itulah menjadi bagian dari penilaian risiko itu sendiri dimana memberikan makna terhadap suatau bahaya yang teridentifikasi untuk memberikan gambaran seberapa besar risiko tersebut. Sehingga dapat diambil tindakan lanjutan terhadap bahaya yang teridentifikasi, apakah bahaya itu dapat diterima atau tidak.

Dalam menilai suatu risiko terdapat standard yang bisa dipakai acuan, salah satunya ialah standard AS/NZS 4360 yang membuat peringkat risiko sebagai berikut:

  • E : Extreme Risk (Sangat berisiko segera secepatnya dibutuhkan tindakan)
  • H : High Risk (Risiko yang besar dibutuhkan perhatian dari manajer puncak)
  • M : Moderat Risk (Risiko sedang, diibutuhkan sebuah tinggakan agar risiko berkurang)
  • L : Low Risk (Risiko rendah masih ditoleransi)

Penilaian risiko sendiri bisa didefinisikan sebagai keseluruhan proses dari identifikasi risiko, analisis risiko dan evaluasi risiko [3].Terdapat 6 fokus dan tipe penialaian risiko [4] yaitu:

  • Risiko Keselamatan
  • Risiko Kesehatan
  • Risiko Lingkungan
  • Risiko Kesejahteraan
  • Risiko Keuangan

Pertanyaan yang mendasar yang bisa dijawab dari penilaian risiko diantaranya yaitu:

  • Apa yang akan terjadi dan bagaimana bisa terjadi (Dapat dijawab ketika memasuki tahap identifikasi)?
  • Apa kemungkinan yang terjadi di masa depan?
  • Apa saja dampaknya? dan
  • Apakah ada faktor-faktor yang mengurangi kemungkinan dari risiko itu atau mengurangi dampak yang ditimbulkan akan risiko yang ada? [5] 42

Secara khusus untuk memulai Penilaian risiko terdapat hal-hal yang harus dipahami dan jelas yaitu:

Konteks dan objek dari organisasi

Risiko-risko apa saja yang bisa ditoleransi, dan bagaimana resiko yang tidak diterima akan diperlakukan

Bagaiaman penilaian risiko dapat diintegrasikan ke dalam proses organisasi

Metode dan teknik yang digunakan untuk penilaian risiko terhadapproses manajemen risiko secara kesuluruhan

Akuntabilitas , tanggung jawab dan kewenangan dalam melaksanakan penialaian risiko

Sumberdaya yang memadai untuk melaksanakan penialaian risiko dan

Bagaimana penilaian risiko akan ditinjau dan dilaporkan [6] 42

Hasil dari tahapan-tahapan ketika fase analisis resiko dan khususnya penilaian risiko ditindaklanjuti dengan proses manajemen risiko. Manajmeen risiko menurut Clough and Sears (1994 dikutip dalam Anonim 2009), Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian.

Menurut AS/NZS 4360 manajemen risiko adalah “ the culture, process, and structures that are directed towards the effective management of potential opportunities and adserve effects ”. Panduan untuk manajemen risiko terdapat dalam ISO 31000 yang terdiri dari 5 aktivitas kunci:

  • Komunikasi dan konsultasi
  • Menentukan konteks
  • Penilaian risiko
  • Pengendalian risiko
  • Monitor dan review

Penggunaan Penilaian Risiko

Bidang Kesehatan HRA atau penilaian risiko kesehatan merupakan suatu prosedur yang tersistematis untuk mengidentifikasi potensi dari bahaya kesehatan, mengevaluasi dari paparan secara subjective & atau objective, serta bertujuan untuk menentukan dan menilai efektivitas dari pengendalian yang dibutuhkannya. [7] 27

“Peniliaian Risiko juga dibutuhkan tidak hanya untuk seseorang yang memenuhi syarat untuk mammografi tetapi juga dibutuhkan untuk seseorang yang menginginkan screening MRI atau test DNA” kata Jennifer Plichta, MD, 2016 annual meeting of the American Society of Breast Surgeons (ASBS). [8] 6

Bidang Audit Auditor internal menggunakan teknik penilaian risiko dalam mengembangkan perencanaan aktivitas audit internal dan pada penentuan prioritas untuk mengalokasikan sumberdaya . Penilaian risiko ini juga digunakan untuk pengujian unit dan pemilihan area yang akan dimasukkan dalam rencana kegiatan internal yang memiliki tingkat kerentanan terhadap risiko yang tinggi. [9] 45

Bidang Teknologi Informasi Penilaian risiko adalah alat yang tersedia yang bisa digunakan oleh organisasi modern untuk membantu mengidentifikasi serta memberikan tingkatan terhadap resiko yang berhubungan dengan penggunaan sistem informasi dan secara tepat mengambil tindakan untuk melindungi sistem informasi. Terdapat dua metodologi terkait penilaian resiko yakni Operationally Critical Threat, Asset, Vulnerability Evaluation (OCTAVE) Risk Assessment dan Central Computer and Telecommunicationd Agency (CCTA’s) Risk Assessment. [10] 26

[1]Federal Guidelines for Dam Safety Risk Management , https://www.ferc.gov/industries/hydropower/safety/guidelines/draft-guidelines.pdf 22 [2] repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49682/4/Chapter%20II.pdf 16 [3]ANSI/ASSE/ISO Guide 73: Vocabulary for Risk Management [4]Kolluru, Rao V. 1996. Risk Assessment and Management Handbook for Enviromental, Health, and Safety Proffessionals. Mc-Graw-Hill. United State of America [5]ISO/IEC 31010:2009 dalam RMIA 2009-Risk anagement: The road to resilience ( https://blackboard.angelo.edu/bbcswebdav/institution/LFA/CSS/Course%20Material/BOR6310/readings/ISO31000%202009.pdf 42 [6]RMIA 2009-Risk anagement: The road to resilience https://blackboard.angelo.edu/bbcswebdav/institution/LFA/CSS/Course%20Material/BOR6310/readings/ISO31000%202009.pdf 42 [7]THS CONSULTING INDONESIA http://xa.yimg.com/kq/groups/21267495/173455128/name/Manfaat+program+HRA+di+perusahaan.pdf 27 [8] http://www.clinicaloncology.com/Breast-Cancer/Article/12-16/Study-Supports-Breast-Ca-Risk-Assessment-Starting-at-Age-40/38865 6 [9] http://www.theccia.org/wp-content/uploads/attachments/IA%20Risk%20Assessment%20handouts.pdf 45 [10] https://globalsecuritysolutionsfzeblog.files.wordpress.com/2016/06/riskassessment.pdf 6

  • Copyright © 2020 -Imam Kusnadi- HELPDESK CENTER- Inspektorat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. All rights reserved

Ganti Foto Profile anda?

risk assessment k3 adalah

Health, Safety and Environmental Consultancy & Training

Pt ekakarsa advisindo sukses.

risk assessment k3 adalah

KAJIAN RISIKO KESEHATAN (HEALTH RISK ASSESSMENT)

Aspek kesehatan kerja perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari pimpinan Perusahaan. Berdasarkan data dari International Labour Organisation (ILO) pada tahun 2014, terdapat 2 juta kasus kematian pekerja karena penyakit akibat kerja (PAK) dari total 2,3 juta kematian di tempat kerja. Bila hal ini tidak di kelola dengan benar sedini mungkin maka Perusahaan akan mengalami kerugian besar pada salah satu aset terpentingnya yaitu sumber saya manusia.

risk assessment k3 adalah

Pondasi dari program manajemen risiko kesehatan kerja adalah kajian risiko kesehatan atau health risk assessment (HRA). Tujuan HRA adalah untuk secara sistematis dan proaktif mengidentifikasi bahaya kesehatan di tempat kerja, menilai potensi risikonya terhadap kesehatan dan menentukan tindakan pengendalian yang tepat untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan pekerja.

Apa yang harus diperhatikan pada saat melakukan HRA?

HRA dapat digunakan untuk menilai risiko aktifitas pekerjaan pada perusahaan baik kegiatan rutin, non-rutin, maupun emergensi.

HRA sebaiknya mencakup dan diterapkan kepada seluruh pekerja, kontraktor dan pihak ketiga yang berada dalam lingkungan kerja.

HRA sebaiknya dilaksanakan pada saat proses awal melakukan perkerjaan, secara berkala dan diulang kembali jika ada perubahan atau persyaratan dari peraturan perundangan.

HRA umumnya dapat dilakukan dengan pendekatan kualitatif maupun semi-kuantitatif.

Melibatkan tim multi-disiplin.

risk assessment k3 adalah

Apa saja keluaran (output) dari HRA?

Laporan teknis HRA berdasarkan aktifitas pekerjaan per lokasi.

Registrasi risiko (Lembar Kerja Kajian Risiko Kesehatan Kerja).

Peta risiko kesehatan berdasarkan lokasi kerja.

Rekomendasi tindakan perbaikan program kesehatan kerja.

Rekomendasi program pemantauan Higiene Industri.

HRA akan membantu manajemen untuk memprioritaskan program higiene industri dan kesehatan kerja yang perlu dikembangkan, diimplementasikan dan/atau diperbaiki; menentukan indikator kunci kinerja (KPI) untuk memonitor pencapaian program sebagai bagian dari perbaikan berkesinambungan. Program higiene industri yang direkomendasikan harus berbasis risiko yang dapat meminimalkan risiko sampai pada tingkat yang bisa diterima ( as low as reasonably practicable /ALARP) dengan efektif dan efisien.

HRA merupakan tulang punggung dari SMK3LL secara keseluruhan dan merupakan demonstrasi komitmen Perusahaan untuk memastikan perlindungan kesehatan kerja dan kepatuhan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Newsletter dapat diunduh di sini.

Featured Posts

INDIKATOR KINERJA KESEHATAN (Health Performance Indicators)

INDIKATOR KINERJA KESEHATAN (Health Performance Indicators)

risk assessment k3 adalah

Recent Posts

Tips Menjaga Kesehatan dan Keselamatan Saat Liburan

Tips Menjaga Kesehatan dan Keselamatan Saat Liburan

Bahaya Pajanan Benzena pada Kesehatan dan Penurunan TLV/TWA Benzena ACGIH 2024

Bahaya Pajanan Benzena pada Kesehatan dan Penurunan TLV/TWA Benzena ACGIH 2024

Silika Kristalin dalam Lingkup Higiene Industri dan Kesehatan Kerja

Silika Kristalin dalam Lingkup Higiene Industri dan Kesehatan Kerja

Menciptakan Keberhasilan Melalui Perencanaan Pekerjaan yang Efektif

Menciptakan Keberhasilan Melalui Perencanaan Pekerjaan yang Efektif

Bahaya Psikososial di Tempat Kerja

Bahaya Psikososial di Tempat Kerja

risk assessment k3 adalah

Evaluasi dan Peningkatan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Dampak Kesehatan Akibat Iklim Kerja Panas dan Pencegahannya

Dampak Kesehatan Akibat Iklim Kerja Panas dan Pencegahannya

risk assessment k3 adalah

Bahaya Kelelahan (Fatigue) di Tempat Kerja

Prosedur Pengujian Face Velocity pada Fume Hoods Menurut ANSI:ASHRAE 110-2016

Prosedur Pengujian Face Velocity pada Fume Hoods Menurut ANSI:ASHRAE 110-2016

Pengendalian Bahaya Ergonomi di Tempat Kerja

Pengendalian Bahaya Ergonomi di Tempat Kerja

Search By Tags

COMMENTS

  1. Contoh Risk Assessment K3: Panduan Lengkap dan Terperinci

    Risk assessment K3 adalah proses sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko yang mungkin terjadi di tempat kerja. Tujuan utama dari risk assessment K3 adalah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan karyawan serta mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

  2. Mengenal Risk Assessment, Metode, dan Langkah Analisisnya

    Mengenal Risk Assessment, Metode, dan Langkah Analisisnya. Pada dasarnya, penilaian risiko atau risk assessment adalah bagian dari prosedur manajemen K3 dalam suatu perusahaan yang perlu dilaksanakan sebagai wujud pencegahan kecelakaan kerja. Dengan risk assessment akan mempermudah karyawan untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko apa saja yang ...

  3. Mengenal Apa Itu Penilaian Risiko K3, Langkah Dan Cara Melakukannya

    April 8, 2022. Penilaian risiko K3 sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi bahaya di tempat kerja. Simak pengertian serta langkah-langkah melakukannya berikut ini! Dalam berbagai industri, implementasi K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dilakukan dan diawasi dengan baik. Tujuannya adalah untuk menjamin kesempurnaan fisik maupun ...

  4. Contoh Risk Assessment K3: Panduan Praktis untuk Identifikasi dan

    Dalam mengelola risiko K3, salah satu contoh yang krusial adalah risk assessment. Proses ini membantu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi potensi bahaya di tempat kerja. Perbedaan mendasar antara HSE (Health, Safety, and Environment) dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) perlu dipahami untuk memastikan implementasi yang efektif ...

  5. Safety Risk Assessment: Mengelola Risiko Keselamatan dalam Lingkungan

    Sistem Manajemen K3 Perkapalan Berdasarkan ISM Kode Tahun 2012; Sistem Manajemen Terintegrasi (Mutu, K3, dan Lingkungan) Berdasarkan ISO 9001, ISO 45001 dan ISO 14001 ... Safety Risk Assessment (SRA) adalah proses evaluasi yang sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai potensi risiko keselamatan dalam suatu aktivitas ...

  6. HIRADC: Pengertian, Tahapan, Tujuan, Perbedaan dengan JSA

    HIRADC adalah metode dalam K3 untuk mengidentifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan kendali. ... HIRADC adalah kepanjangan dari Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control yang merupakan metode untuk identifikasi risiko kecelakaan dalam SMK3. HIRADC adalah salah satu persyaratan OHSAS 18001:2007 klausal 4.3.1 dan ISO ...

  7. (PDF) Penilaian Risiko K3 dengan Metode HIRARC

    While from a total of 65 risks identified, it is known that 25% risk has a high-risk rating, 43% risk has a moderate risk rating, and 32% of threats has a low-risk rating. Content may be subject ...

  8. Tanya Jawab Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (HIRA ...

    Program DAN Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) adalah adaptasi langsung dari program keselamatan institusional yang digunakan dalam perawatan kesehatan dan kedirgantaraan. Hal ini dirancang untuk mengajarkan Anda untuk mengidentifikasi risiko dan bahaya yang mempengaruhi Anda, staf Anda, pelanggan Anda dan bisnis Anda sebelum ...

  9. Penilaian Risiko dan Metode yang Dapat Digunakannya

    Salah satu cara untuk menjaga K3 di lingkungan pekerjaan kita adalah dengan mulai dari meminimalisir risiko kerja yang dapat dilakukan menggunakan berbagai metode. Penilaian risiko ini dapat kita lakukan mulai dari identifikasi risiko kerja sebelum menyiapkan langkah-langkah preventifnya. ... Qualitative Risk Assessment merupakan pendekatan ...

  10. Manajemen Risiko K3

    Penilaian Resiko / Risk Assesment adalah penilaian suatu resiko dengan membandingkan terhadap tingkat / kreiteria resiko yang telah ditetapkan. Manajemen Resiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan aktifitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review resiko.

  11. Identifikasi Bahaya dan Risk Assessment: Penerapan Keselamatan dan

    Risk assessment result of 14 potential hazards found that, 43% are low risk, 14% are moderate risk, 43% are high risk, and 0% are extreme risk. The effort to implementing occupational health and ...

  12. Analisa Manajemen Risiko K3 Dalam Industri Manufaktur Di Indonesia

    This study aims to provide an overview and analyze hazard identification, risk assessment, and risk control in Indonesia{\textquoteright}s manufacturing industry..This study is a literature review of published journals related to OSH risk management in Indonesia{\textquoteright}s manufacturing sector from 2015-2020 obtained from google scholar.

  13. Penilaian Risiko: Matrik, Contoh, dan Tahapannya dalam Bisnis

    Penilaian risiko adalah proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan timbulnya risiko pada operasional perushaaan. Sebagian besar bisnis memiliki potensi risiko yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan para karyawannya. Jadi, penting bagi Anda untuk menganalisis apa saja risiko yang bisa terjadi untuk menjaga keselamatan ...

  14. Pengenalan Metode HIRARC untuk Manajemen Risiko di Tempat Kerja

    Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) adalah salah satu metode yang digunakan dalam manajemen risiko di tempat kerja. Dan metode ini digunakan untuk mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi risiko, dan mengendalikan risiko di tempat kerja. Metode HIRARC sangat penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan kerja karyawan.

  15. PDF MANAJEMEN RISIKO K3

    Manajemen Risiko adalah proses manajemen terhadap risiko yang dimulai dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan mengendalikan risiko. Penilaian Tingkat Risiko K3 Konstruksi dapat dilakukan dengan memadukan nilai kekerapan/frekuensi terjadinya peristiwa bahaya K3 dengan keparahan/kerugian/dampak kerusakan yang ...

  16. PDF MANAJEMEN RISIKO KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) (Study ...

    dalam manajemen risiko adalah proses menilai (assessment) impak dan kemungkinan dari risiko yang sudah diidentifikasi. Proses ... Soehatman. "Pedoman Praktis Manajemen Risiko Dalam Perspektif K3 OHS Risk Management" Keterangan: Very High Risk: Risiko Sangat tinggi. High Risk: Risiko tinggi Medium Risk: Risiko Sedang Low Risk: Risiko Rendah .

  17. Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Perawat

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis Hazard Identification Risk Assessment Determining Control (HIRADC) dengan penerapan ISO 45001 (2018).

  18. PDF Mitigasi Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)

    Management Standart AS/NZS 4360:2004. The first stage in this risk manajement is to identify the risk by using a fishbone diagram. The second stage is to do the risk assessment analysis of the consequences and likelihood. From the results of the risk analysis found 2 exstreme risk levels, 7 high risk levels and 4 low risk levels.

  19. Identifikasi Bahaya dan Risk Assessment Penerapan Keselamatan dan

    Risk assessment result of 14 potential hazards found that, 43% are low risk, 14% are moderate risk, 43% are high risk, and 0% are extreme risk. The effort to implementing occupational health and safety (K3) have not been fully carried out optimally. To control or push down the potential of hazards are (1) Arranging SOP for implementation

  20. Manajemen Risiko K3: Pengertian dan Penerapannya

    Pengertian Manajemen Risiko. Risiko adalah segala sesuatu yang berpeluang menimbulkan sakit, kerusakan, atau bahkan kematian akibat terjadinya bahaya. Sedangkan manajemen risiko K3 adalah suatu upaya sistematis, terencana, terstruktur, dan komprehensif yang dilakukan oleh perusahaan. Tujuan manajemen risiko adalah untuk meminimalisir terjadinya ...

  21. Apa yang dimaksud dengan Penilaian Risiko atau Risk Assessment?

    Risk Assessment atau dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai penilaian risiko merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan untuk memperkirakan suatu risiko dari situasi yang bisa didefinisikan dengan jelas ataupun potensi dari suatu ancaman atau bahaya baik secara kuantitatif atau kualitatif. Penilaian risiko juga bisa diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan keamanan dengan suatu ...

  22. Manajemen Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proyek

    The risk of Occupational Health and Safety (K3) was identified through JSA (Job Safety Analysis). Questionnaire survey was carried out to get feedback from the experts regarding the potential ...

  23. KAJIAN RISIKO KESEHATAN (HEALTH RISK ASSESSMENT)

    Pondasi dari program manajemen risiko kesehatan kerja adalah kajian risiko kesehatan atau health risk assessment (HRA). Tujuan HRA adalah untuk secara sistematis dan proaktif mengidentifikasi bahaya kesehatan di tempat kerja, menilai potensi risikonya terhadap kesehatan dan menentukan tindakan pengendalian yang tepat untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan pekerja.